Digital Divide: Tantangan Nyata Pengembangan Ekraf di Daerah

15 November 2025
412 dilihat
1 min read

SANGATTA – Pengembangan ekonomi kreatif di tingkat kabupaten ternyata masih menghadapi tantangan kesenjangan digital yang cukup signifikan. Sementara di tingkat nasional berbagai platform digital seperti streaming dan konten kreator YouTube sudah berkembang pesat, hal yang sama belum sepenuhnya dapat diadopsi di daerah. Faktor kesiapan masyarakat dan minimnya permintaan pasar lokal menjadi kendala utama yang menghambat transformasi digital sektor kreatif lokal.

Salah seorang anggota DPRD Kutim, Yusri Yusuf, mengakui adanya kesenjangan ini. “Pengembangan ekonomi kreatif cuma untuk mengambil seperti streaming youtuber itu belum sampai ke sana. Karena di tempat kita belum populer, bagi kita tapi kalau nasional sudah. Karena di kabupaten belum ada yang meminta seperti itu,” ujarnya menjelaskan situasi yang dihadapi.

Fenomena ini menunjukkan bahwa strategi pengembangan ekonomi kreatif tidak bisa disamaratakan antara daerah dan pusat. Apa yang sudah menjadi tren nasional belum tentu dapat langsung diimplementasikan di tingkat kabupaten. Perlu pendekatan yang lebih kontekstual dengan mempertimbangkan kondisi sosial budaya dan kesiapan infrastruktur digital di masing-masing daerah.

BACA JUGA  Setelah NU, Giliran Muhammadiyah Ditawari Kelola Tambang Bekas KPC

Di sisi lain, kondisi ini justru membuka peluang untuk mengembangkan potensi ekonomi kreatif yang lebih sesuai dengan karakteristik daerah. Alih-alih mengejar tren digital yang belum populer, pengembangan bisa difokuskan pada sektor-sektor yang sudah ada dan diminati masyarakat lokal, seperti kerajinan tangan, kuliner khas daerah, atau wisata budaya.

Pemerintah daerah dituntut untuk lebih jeli dalam membaca peluang dan merancang program yang tepat sasaran. Daripada memaksakan platform yang belum familiar, lebih baik memperkuat basis ekonomi kreatif tradisional sambil secara bertahap memperkenalkan teknologi digital sebagai alat bantu.

Program literasi digital yang masif dan tepat sasaran perlu dilakukan untuk mempersiapkan pelaku ekonomi kreatif lokal dalam menghadapi era digitalisasi. Pelatihan-pelatihan dasar mengenai pemanfaatan media sosial untuk pemasaran dapat menjadi langkah awal yang tepat sebelum melangkah ke platform yang lebih kompleks.

BACA JUGA  Ketahanan Pangan dan Pemberdayaan Petani: DPRD Kutim Desak Optimalisasi Lahan untuk Pertanian Mandiri Berbasis Masyarakat

Dengan pendekatan yang bertahap dan sesuai kondisi lokal, diharapkan ekonomi kreatif daerah dapat tumbuh secara organik. Yang terpenting adalah menciptakan ekosistem yang mendukung terlebih dahulu, sebelum melompat ke tren digital yang mungkin masih terlalu dini untuk diadopsi secara massal di tingkat kabupaten.

Pembangunan infrastruktur digital yang merata dan berkualitas menjadi prasyarat mutlak sebelum melakukan akselerasi digitalisasi sektor kreatif di daerah. Kolaborasi antara pemerintah, penyedia layanan telekomunikasi, dan pelaku usaha kreatif perlu ditingkatkan untuk menciptakan ekosistem digital yang komprehensif dan inklusif bagi semua lapisan masyarakat. (ADV)

Jangan Lewatkan