Warga Indonesia Paling Banyak Telan Mikroplastik, Ini 5 Sumber yang Jarang Disadari

Studi global menunjukkan Indonesia menempati peringkat pertama konsumsi mikroplastik per kapita di dunia. Tanpa disadari, jutaan partikel mikroplastik menyelinap ke tubuh lewat benda rumah tangga harian seperti talenan, teh celup, hingga gelas kertas.
6 Juli 2025
131 dilihat
2 mins read

SANGATTA – Tanpa sadar, jutaan orang Indonesia mengonsumsi mikroplastik setiap harinya, bukan hanya dari makanan laut atau air kemasan, tapi juga dari benda-benda rumah tangga yang dianggap aman. Mulai dari teh celup hingga talenan plastik, partikel mikroplastik memasuki tubuh secara perlahan namun terus-menerus. Temuan ini menjadi alarm serius bagi kesehatan publik.

Dikutip dari cnbcindonesia.com, penelitian terbaru yang diterbitkan di Environmental Science & Technology mencatat bahwa Indonesia berada di puncak daftar konsumsi mikroplastik per kapita global, dengan rata-rata konsumsi mencapai 15 gram mikroplastik per bulan. Capaian ini menempatkan Indonesia sebagai konsumen mikroplastik terbanyak di dunia, disusul Malaysia dan Filipina.

Disebut dalam penelitian itu, lima barang harian yang diam-diam mengandung mikroplastik:

1. Talenan plastik
Studi dari American Chemical Society (ACS) menyebutkan bahwa penggunaan talenan plastik dalam aktivitas dapur sehari-hari berpotensi menyebabkan perpindahan hingga 79,4 juta partikel mikroplastik polipropilena per tahun ke makanan. Alternatif yang lebih aman mencakup talenan berbahan kaca, kayu keras, atau serat kertas padat. Kayu keras lebih direkomendasikan karena banyak tersedia di pasar tradisional Indonesia

2. Kantong teh celup
Meski terlihat alami, banyak kantong teh mengandung plastik (polipropilen), bahkan kantong berbahan kertas pun kerap dilapisi plastik. Penelitian dari Dow University of Health Sciences pada 2023 menemukan bahwa air panas dapat melepaskan hingga 3,1 miliar partikel mikroplastik hanya dari satu cangkir teh. Pilihan yang lebih sehat adalah saringan logam atau kantong teh berbahan katun organik.

BACA JUGA  Hasil Riset OCBC NISP, Masyarakat Indonesia Cenderung Habiskan Uang untuk Gaya Hidup

3. Cetakan es batu dari plastik
Meski data ilmiah masih terbatas, ahli kesehatan mengingatkan bahwa pembekuan air dalam cetakan es batu plastik dapat memicu migrasi mikroplastik ke dalam air beku, mirip dengan mekanisme pelepasan saat pemanasan. Penggunaan cetakan dari baja tahan karat atau silikon menjadi pilihan yang direkomendasikan.

4. Wadah makanan microwave plastik
Meskipun diberi label “aman untuk microwave”, wadah plastik ternyata dapat mengeluarkan jutaan partikel mikroplastik saat dipanaskan. Sebuah studi dari Universitas Nebraska-Lincoln tahun 2023 menunjukkan hingga 4 juta partikel per sentimeter persegi bisa terlepas ke dalam makanan bayi dari kemasan plastik tertentu.

5. Gelas kertas sekali pakai
Penelitian dari Journal of Hazardous Materials pada 2021 menunjukkan bahwa gelas kertas untuk minuman panas sering mengandung lapisan plastik yang bisa melepaskan senyawa seperti fluorida, nitrat, dan logam berat. Menggunakan botol logam tahan panas yang dapat digunakan ulang sangat disarankan untuk menghindari paparan berbahaya ini.

BACA JUGA  Magic Land di Sangatta

Mikroplastik tidak hanya menumpuk dalam tubuh, tapi juga membawa bahan kimia berbahaya seperti BPA, ftalat, arsenik, dan timbal yang dapat merusak sistem hormon, memicu kanker, serta gangguan sistem reproduksi dan kardiovaskular.

Benda Sehari-hari Bahaya Utama Rekomendasi Alternatif
Talenan plastik Lepaskan hingga 79,4 juta mikroplastik/tahun ke makanan Talenan kaca, kayu keras, serat kertas
Teh celup plastik/kertas Melepaskan hingga 3,1 miliar nanoplastik per cangkir Saringan teh logam, kantong katun
Wadah es batu plastik Potensi kontaminasi saat pembekuan Wadah baja tahan karat, silikon
Wadah microwave plastik Mengandung jutaan mikroplastik saat dipanaskan Wadah kaca, keramik
Gelas kertas berlapis plastik Melepas bahan kimia toksik saat kena panas Tumbler logam kedap udara

Apa yang bisa dilakukan?

1. Ganti produk dapur berbahan plastik dengan bahan alami.
2. Gunakan wadah dan alat makan berbahan logam, kaca, atau kayu.
3. Hindari pemanasan makanan dalam wadah plastik.
4. Dorong regulasi pelabelan bahaya mikroplastik di kemasan makanan/minuman.
5. Edukasi keluarga dan masyarakat soal bahaya paparan harian mikroplastik. (*/che)