Empat Target Strategis PPTI Kutim untuk Bebas TBC 2030

27 April 2026
327 dilihat
1 min read

Sangatta – Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia (PPTI) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) resmi mengukuhkan pengurus di 18 kecamatan. Ketua PPTI Kutim, Siti Robiah Ardiansyah, menegaskan langkah ini bukan hanya seremonial, melainkan awal dari amanah besar untuk memberantas TBC di wilayah tersebut.

Ia menjelaskan, kepengurusan lima tahun ke depan harus memastikan Kutim berkontribusi signifikan terhadap target eliminasi TBC nasional pada tahun 2030. Target ini dinilainya sejalan dengan program prioritas Asta Cita Presiden di bidang pembangunan kualitas hidup manusia.

“Pengukuhan ini adalah amanah besar. Saya berharap seluruh pengurus PAC yang telah dikukuhkan hari ini dapat bekerja dengan penuh semangat, tanggung jawab, dan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat dalam upaya pemberantasan TBC di Kutai Timur,” ujar Siti Robiah di Pelangi Room Hotel Royal Victoria, Senin (27/4/2026).

BACA JUGA  Peneliti Sebut Tidak Ada Risiko Penggunaan Ponsel Sebabkan Kanker Otak

Untuk mencapai target tersebut, PPTI Kutim memfokuskan kerja pada empat indikator utama. Pertama, memastikan standar pelayanan minimal penanganan TBC di seluruh puskesmas mencapai 100 persen. Kedua, meningkatkan angka penemuan kasus hingga minimal 85 persen.

“Kasus harus ditemukan lebih awal. Jangan sampai masyarakat takut atau malu memeriksakan diri. Semakin cepat ditemukan, semakin besar peluang sembuh dan semakin kecil risiko penularan,” ujarnya.

Target ketiga adalah meningkatkan angka keberhasilan pengobatan hingga 90 persen. Keempat, mendorong cakupan terapi pencegahan TBC minimal 60 persen bagi keluarga atau kontak erat pasien.

“Pencegahan sama pentingnya dengan pengobatan. Keluarga dan kontak erat pasien harus mendapat perhatian agar kita bisa memutus rantai penularan sejak dini,” tuturnya.

BACA JUGA  Fenomena "Doom Spending" sedang Tren di Kalangan Milennial dan Gen Z, Apa itu?

Siti Robiah juga mengajak seluruh pemangku kepentingan, termasuk pemerintah daerah dan para camat, untuk membangun kolaborasi lintas sektor. Menurutnya, tantangan geografis Kutim yang luas membutuhkan kerja sama agar program berjalan efektif. Ia menilai para kader sebagai ujung tombak di lapangan.

“Ini bukan sekadar organisasi. Ini adalah ladang pengabdian, bahkan amal jariyah bagi kita semua. Mari bekerja bersama agar Kutai Timur bebas TBC sesuai target 2030,” tutupnya.

Penulis: M. Ayyub

Editor: Redaksi

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published.