Festival UFAH Angkat Kembali Tradisi Menyumpit sebagai Warisan Budaya Kayan

13 Agustus 2026
356 dilihat
1 min read

KOMBENG – Tradisi menyumpit kembali hadir dalam Festival UFAH 2026 di Desa Miau Baru, Kecamatan Kombeng, Kutai Timur. Permainan tradisional tersebut menjadi salah satu atraksi yang memperlihatkan bagaimana warisan budaya masyarakat Dayak Kayan tetap dipertahankan di tengah perubahan zaman.

Bupati Kutai Timur Ardiansyah Sulaiman dan Wakil Bupati Mahyunadi turut menyaksikan rangkaian Festival UFAH. Bersama perwakilan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah, keduanya juga mencoba permainan menyumpit yang menjadi bagian dari kegiatan festival.

Selain menarik perhatian warga dan tamu undangan, lomba tersebut menjadi sarana mengenalkan permainan tradisional kepada generasi muda. Menyumpit yang dahulu lekat dengan kehidupan masyarakat Dayak Kayan kini dihadirkan kembali dalam ruang festival agar keberadaannya tetap dikenal.

BACA JUGA  Jemput Bola Jadi Strategi Disdikbud Kutim Kembalikan ATS ke Pendidikan

Festival UFAH tidak hanya berisi permainan tradisional. Berbagai prosesi adat dan pertunjukan seni turut digelar sebagai bagian dari upaya mempertahankan kebudayaan masyarakat Kayan. Salah satunya melalui penampilan sembilan tarian autentik Kayan Umaq Lekan.

Ardiansyah menilai pelaksanaan kegiatan budaya memiliki makna lebih luas daripada sekadar pelestarian tradisi. Menurutnya, adat dan budaya dapat menjadi salah satu modal sosial dalam pembangunan Kutai Timur.

Ia menyebut keberagaman budaya perlu dijaga karena masyarakat Kutim berasal dari berbagai latar belakang etnis. Dalam kondisi tersebut, adat dan budaya dapat berfungsi sebagai perekat hubungan antarkelompok masyarakat.

Pemerintah daerah juga memberikan dukungan terhadap kegiatan yang digelar masyarakat melalui kehadiran jajaran pimpinan daerah dalam festival. Dukungan itu menunjukkan bahwa pelestarian budaya menjadi bagian dari perhatian pemerintah di tingkat daerah.

BACA JUGA  Wakili Kutim, Empat Pelajar Bersaing Jadi Pelopor Keselamatan LLAJ Kaltim

Rangkaian Festival UFAH akhirnya mempertemukan tradisi, kesenian, dan partisipasi masyarakat dalam satu ruang. Lomba menyumpit menjadi salah satu bentuk nyata bahwa warisan budaya dapat terus dihidupkan melalui kegiatan bersama, sekaligus dikenalkan kepada generasi yang akan meneruskannya. (ADV/ProkopimKutim/UB)