Lima Anak dalam Prosesi Ufah sebagai Simbol Regenerasi Adat Kayan

13 Agustus 2026
346 dilihat
1 min read

KOMBENG – Lima anak laki-laki menjadi bagian penting dalam prosesi adat Ufah yang digelar pada Festival UFAH 2026 di Desa Miau Baru, Kecamatan Kombeng, Kutai Timur. Kehadiran mereka bukan sekadar pelengkap ritual, tetapi memiliki makna terkait kesinambungan kepemimpinan dan pewarisan adat dalam masyarakat Dayak Kayan.

Bupati Kutai Timur Ardiansyah Sulaiman mengatakan baru memahami makna tersebut setelah mendengar penjelasan Ketua Umum Persekutuan Dayak Kayan Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara, Tan Irang. Sebelumnya, ia mengaku beberapa kali melihat anak-anak dilibatkan dalam prosesi Ufah tanpa mengetahui makna di baliknya.

Sebelum ritual berlangsung, Ketua TP PKK Kutim Siti Robiah Ardiansyah menyapa kelima anak yang telah dipersiapkan. Ia mendoakan mereka tumbuh sehat sekaligus kelak mampu menjadi pemimpin yang baik.

BACA JUGA  Pemkab Kutim Dorong Nelayan Kecil melalui Penguatan Kapasitas

Ketua Umum Persekutuan Dayak Kayan Kaltim-Kaltara Tan Irang mengatakan keberadaan ritual tersebut menunjukkan pentingnya masyarakat menjaga warisan leluhur. Menurut dia, adat, seni, dan budaya perlu terus dipelihara agar tidak terputus dari generasi ke generasi.

Tan Irang juga mengingatkan masyarakat Kayan untuk menjaga persatuan dan membangun hubungan harmonis dengan berbagai kelompok etnis yang hidup di Kutai Timur. Menurutnya, pelestarian budaya berjalan beriringan dengan upaya memperkuat kebersamaan di tengah masyarakat yang beragam.

Festival UFAH 2026 tidak hanya menghadirkan prosesi adat. Sebanyak sembilan tarian khas Dayak Kayan Umaq Lekan turut dipentaskan untuk memperkenalkan kesenian lokal kepada masyarakat yang hadir.

Ardiansyah menilai kegiatan seperti Festival UFAH memiliki arti strategis bagi Kutai Timur. Adat dan budaya, menurut dia, bukan sekadar peninggalan sejarah, melainkan modal sosial yang dapat memperkuat hubungan masyarakat.

BACA JUGA  SPPG Kutim Diminta Utamakan Pengelolaan Limbah Sebelum Beroperasi

Melalui ritual Ufah dan rangkaian seni budaya tersebut, Festival UFAH menjadi ruang untuk memastikan tradisi Kayan tetap hidup. Nilai yang diwariskan melalui prosesi itu diharapkan terus dipahami dan diteruskan oleh generasi muda. (ADV/ProkopimKutim/UB)