Pemerintah Tak Hadir saat Rapat Pembahasan APBD 2025, Fraksi NasDem Kutai Timur Nilai Begini

Empat kali diundang rapat DPRD Kutim bahas anggaran 2025, TPAD selalu mangkir. Dewan anggap pemerintah tak serius urus kepentingan rakyat.
17 April 2025
363 dilihat
1 min read
Wakil Ketua II DPRD Kutim Prayunita Utami dan Fraksi NasDemm DPRD Kutim, Kamis,17 April 2025. FOTO: Edi/UlinBorneo.id

SANGATTA – Fraksi NasDem di DPRD Kabupaten Kutai Timur melayangkan kritik kepada pemerintah lantaran ketidakhadiran Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) saat rapat hearing pembahasan APBD 2025 pada 16 April 2025. Yulianus Palangiran, salah seorang legislator di Bukit Pelangi menilai absennya TAPD ketika itu, sebagai bukti ketidakseriusan pemerintah dalam memenuhi kebutuhan masyarakat, terutama di tengah mandeknya pembahasan anggaran yang telah empat kali dijadwal ulang tanpa kejelasan.

Legislator asal Partai NasDem itu menyatakan kekecewaannya kepada TAPD yang dianggap tidak menghormati lembaga legislatif di Kutai Timur. “Kami sudah menunggu sejak pukul 13.00 WITA di Ruang Rapat Hearing, tetapi hingga pukul 17.00 WITA, tidak satu pun perwakilan TAPD hadir. Ini menunjukkan pemerintah tidak menghargai proses demokrasi dan kepentingan publik,” tegasnya saat diwawancara di Ruang Wakil Ketua II DPRD, pada Kamis, 17 April 2025.

BACA JUGA  Strategi Pengendalian Beban: Pemerintah Kutim Siapkan Jembatan Timbang untuk Tekan Kerusakan Jalan

Ia juga mempertanyakan komitmen Bupati Ardiansyah Sulaiman dan Wakil Bupati Mahyunadi dalam mewujudkan visi “Kutai Timur Hebat”. Menurutnya, program tersebut berisiko ‘jalan di tempat’ jika pembahasan APBD murni 2025 terus tertunda. “Jadwal rapat Banmus (Badan Musyawarah) sudah lewat, tapi realisasi APBD belum ada. Kami sudah empat kali rapat, dan jadwal terus digeser tanpa alasan jelas,” ujar Yulianus lagi.

Mewakili Fraksi NasDem, Yulianus menyoroti dua masalah krusial, yakni soal mekanisme perencanaan anggaran yang dinilai belum transparan, termasuk saat mengotak-atik penyesuaian anggaran dari belasan triliun menjadi beberapa triliun tanpa koordinasi yang intensif dengan DPRD. Kedua, indikasi pelanggaran mekanisme akibat ketidakjelasan jadwal rapat.

Dikatakan Yulianus, jika pemerintah memangkas anggaran secara tiba-tiba, ia mempertanyakan nasib program prioritas seperti layanan kesehatan, pendidikan, hingga infrastruktur bisa berjalan maksimal. Terutama yang telah diusulkan warga melalui DPRD. Meski kritis, Yulianus menegaskan dukungan pihaknya terhadap kepemimpinan Ardiansyah Sulaiman dan Mahyunadi.

BACA JUGA  Infrastruktur Pariwisata di Kecamatan: Antara Potensi Alam dan Ketertinggalan Pembangunan

“Kami akan mendukung penuh program yang benar-benar memihak kebutuhan dasar masyarakat. Namun, jika ada kebijakan yang menyimpang dari kesepakatan bersama, kami tidak segan melayangkan kritik dan tindakan konkret,” tegasnya.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari TAPD terkait tertundanya realisasi APBD dan absennya perwakilan pemerintah dalam rapat hearing. Ulinborneo.id mendatangi ketua TAPD yang juga Sekretaris Kabupaten, Rizali Hadi dan Kepala Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah Kutai Timur, pun tidak ada respons. Begitu juga lima pertanyaan via pesan WhatsApp dikirimkan ke nomer telepon pribadi Rizali sejak 29 Maret 2025 dan 17 April 2025, kembali tanpa respons. (*/Edi)

Jangan Lewatkan