Ekraf Kutim Tertinggal Zaman, DPRD Soroti Minimnya Terobosan di Sektor Digital

20 November 2025
406 dilihat
1 min read

SANGATTA – Strategi pengembangan Ekonomi Kreatif (Ekraf) di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) dinilai masih berjalan di tempat dan belum mampu menjawab tantangan zaman. Anggota Komisi B DPRD Kutai Timur, Yusri Yusuf, secara terbuka mengungkapkan evaluasi kritisnya bahwa pendekatan yang dilakukan pemerintah daerah selama ini dinilai belum signifikan dan masih bersifat sangat konvensional.

Yusri menyatakan bahwa dewan telah aktif mendorong dinas teknis terkait untuk lebih serius dan progresif dalam mengembangkan sektor yang potensial ini. Namun, tampaknya ada kesenjangan antara harapan dewan dengan realisasi di lapangan.

“Ekraf itu kami tekankan ke dinas untuk pengembangan Ekraf, tapi mereka masih punya program yang betul-betul sesuai dengan kerja mereka,” ujarnya.

Lebih lanjut, dengan penekanan yang jelas, ia menyampaikan tuntutan inti dari dewan agar terjadi peningkatan kualitas dan skala pengembangan.

BACA JUGA  Kolaborasi Fiskal Tiga Pilar: Komisi C DPRD Kutim Rancang Skema Pendanaan Terintegrasi untuk Percepatan Perbaikan Jalan

“Kita minta supaya Ekraf itu ditingkatkan,” tegasnya.

Namun, menurut pengamatan mendalam Yusri, strategi yang dijalankan oleh pihak eksekutif hingga saat ini belum menunjukkan perkembangan atau terobosan yang berarti. Pendekatannya dinilai masih statis dan tidak jauh berbeda dengan program-program lama.

“Untuk strateginya ya saat ini belum terlalu signifikan lah, maksudnya apa yang ada sih sesuai aja, karena pengembangan Ekraf masih seperti yang sebelum-sebelumnya,” jelas Yusri dengan nada prihatin.

Sebagai gambaran nyata, ia mencontohkan jenis kegiatan yang selama ini dominan berjalan. Aktivitas-aktivitas tersebut dinilai masih bersifat permukaan dan belum menyentuh aspek pengembangan yang lebih strategis.

“Melayani UMKM, membantu-bantuan produksi mereka, mungkin seperti itu.

Lebih lanjut, Yusri secara jujur mengakui sebuah celah besar dalam pengembangan Ekraf di Kutai Timur, yaitu ketertinggalan dalam menjangkau sektor ekonomi digital yang sedang menjadi tren global.

BACA JUGA  Bersinergi di Tengah Tantangan: Dukungan Konkret untuk Inovasi Pelaku Pariwisata

“Cuma untuk mengambil yang seperti streaming-streaming, youtuber, itu belum, belum sampai ke sana,” tuturnya.

Ia kemudian menjelaskan alasan di balik ketertinggalan ini, yang lebih disebabkan oleh persepsi bahwa sektor tersebut dianggap belum populer atau diminati di tingkat lokal.

“Karena dianggap belum terlalu populer bagi kita. bagi kita nih ya. Kalau nasional sudah populer, tapi bagi kabupaten belum ada yang meminta untuk seperti itu.”

Pernyataan ini secara tegas mengindikasikan bahwa pengembangan Ekraf di Kutim masih sangat berfokus pada UMKM tradisional dan belum merambah ke peluang ekonomi kreatif digital yang sebenarnya sedang berkembang pesat. Ketertinggalan ini berisiko membuat Kutim semakin terpental dalam persaingan ekonomi kreatif regional maupun nasional. (ADV)

Jangan Lewatkan