SANGATTA – Penanganan stunting di Desa Singa Gembara, Kabupaten Kutai Timur (Kutim), menunjukkan perkembangan positif. Prevalensi stunting yang pada Juli 2025 berada di angka 26,45 persen turun menjadi 16,69 persen pada akhir Desember. Jumlah anak stunting juga berkurang dari 35 anak pada September menjadi 16 anak pada Desember.
Capaian tersebut tidak terlepas dari intervensi konvergensi Pencegahan dan Percepatan Penurunan Stunting (P3S) yang dilakukan pemerintah desa. Salah satu pendekatan yang dikembangkan ialah Dapur Stunting, yang dirancang bukan hanya untuk menyediakan makanan tambahan, tetapi juga memperkuat pemahaman keluarga mengenai gizi dan pola asuh.
Melalui program ini, makanan tambahan diolah dan disalurkan langsung kepada keluarga sasaran. Lima kader dilibatkan dalam proses tersebut, mulai dari pengolahan hingga distribusi. Menu disusun mengikuti arahan ahli gizi Puskesmas Teluk Lingga dengan memanfaatkan bahan pangan lokal, termasuk hasil Toga dan Dasawisma.
Pengelolaan program juga dibangun melalui musyawarah dusun dan RT dengan melibatkan BPD, pengurus RT serta tokoh masyarakat. Pemerintah Desa Singa Gembara kemudian menerbitkan SK Penunjukan Pengelola Dapur Stunting sebagai dasar pelaksanaan dan keberlanjutan program.
Dukungan pembiayaan berasal dari APBDes 2025 dan 2026 pada bidang kesehatan serta pendidikan. Desa juga mengalokasikan Dana RT sebesar Rp250 juta per tahun, dengan minimal 1 persen diarahkan bagi RT yang memiliki sasaran stunting.
Intervensi diperkuat melalui kolaborasi dengan PT Pama Persada Nusantara dan PT United Tractors melalui CSR, terutama untuk PMT Posyandu.
Kinerja tersebut kini dipaparkan Kepala Desa Singa Gembara Hamriani Kassa dalam Penilaian Desa Berkinerja Baik P3S 2026 tingkat Provinsi Kaltim. Mewakili Kutim, desa ini menargetkan zero stunting pada 2027 sekaligus mendorong perubahan perilaku keluarga secara berkelanjutan. (ADV/ProkopimKutim/UB)
