Ulang Tahun Desa Miau Baru Berlangsung Seiring dengan Festival UFAH 2026 

14 Agustus 2026
293 dilihat
1 min read

KOMBENG – Perayaan ulang tahun ke-55 Desa Miau Baru pada 2026 berlangsung bersamaan dengan Festival UFAH 2026. Bagi masyarakat Dayak Kayan, kegiatan tersebut menjadi ruang untuk merawat adat, mengungkapkan syukur atas hasil bumi, serta memperkuat hubungan antarwarga.

Festival berlangsung di tengah kehadiran ribuan masyarakat yang mengenakan pakaian adat. Musik sape dan pertunjukan tari mengiringi berbagai rangkaian kegiatan budaya. Prosesi pemberkatan bayi turut menjadi bagian penting festival sebagai simbol doa dan harapan bagi generasi penerus.

Sejumlah unsur masyarakat dan pemerintah hadir dalam kegiatan tersebut. Forum Koordinasi Pimpinan Daerah, tokoh adat dari berbagai kelompok, organisasi masyarakat, hingga perwakilan masyarakat Jawa turut mengikuti rangkaian acara. Bupati Kutai Timur Ardiansyah Sulaiman hadir bersama Ketua TP PKK Kutim Siti Robiah Ardiansyah, sedangkan Wakil Bupati Mahyunadi juga ikut menyaksikan kegiatan.

BACA JUGA  PELTI Kutim Diminta Bangun Jalur Regenerasi Atlet dari Sekolah

Ardiansyah menilai keberlanjutan tradisi di Miau Baru menunjukkan bahwa kebudayaan memiliki peran penting dalam pembangunan daerah. Menurut dia, kekayaan adat dapat menjadi kekuatan sosial bagi Kutai Timur yang dihuni masyarakat dengan beragam latar belakang.

Mahyunadi juga mengapresiasi masyarakat Miau Baru yang konsisten menjaga tradisi. Ia berharap Festival UFAH dapat terus diselenggarakan karena telah masuk dalam agenda tahunan Dinas Pariwisata serta Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kutim.

Penyelenggaraan festival turut ditopang gotong royong masyarakat. Kepala Desa Miau Baru Luis Langet menyampaikan penghargaan kepada panitia, peserta, dan para donatur yang membantu kegiatan. Camat Kombeng Petrus Ipung juga mendorong masyarakat menjaga kesinambungan budaya sejalan dengan pembangunan daerah.

BACA JUGA  BAZNAS Kutim Perkuat Manfaat Zakat Lewat Rumah Layak Huni

Rangkaian Festival UFAH kemudian ditutup dengan pertunjukan dan prosesi adat Dayak Kayan. Kegiatan tersebut menunjukkan bahwa tradisi masih memiliki tempat dalam kehidupan masyarakat Miau Baru.

Bagi desa yang terus berhadapan dengan perkembangan zaman, festival ini menjadi pengingat bahwa kemajuan tidak harus memutus hubungan dengan warisan leluhur. Kebudayaan justru dapat menjadi pijakan untuk membangun masyarakat tanpa kehilangan identitasnya. (ADV/ProkopimKutim/UB)