SANGATTA – Persatuan Lawn Tenis Indonesia (PELTI) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) memasuki periode kepengurusan baru dengan pekerjaan besar di sektor pembinaan. Organisasi tersebut didorong tidak hanya mengejar prestasi pertandingan, tetapi membangun sistem yang mampu melahirkan atlet lokal secara berkelanjutan. Agenda itu menjadi salah satu pembahasan utama Musyawarah Kabupaten (Muskab) PELTI Kutim masa bakti 2026–2030 di Cafe Maloy Hotel Royal Victoria, Senin, 3 Agustus 2026.
Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kutim Basuki Isnawan mengatakan capaian medali bukan satu-satunya ukuran keberhasilan organisasi olahraga. Menurutnya, prestasi harus lahir dari pembinaan yang konsisten, organisasi yang solid, serta keterlibatan berbagai pihak.
Ia meminta PELTI Kutim mulai mengurangi ketergantungan terhadap atlet dari luar daerah. Pembentukan klub dan akademi tenis dinilai perlu diperluas, sementara sekolah harus dijadikan salah satu pintu masuk pencarian dan pembinaan bibit muda.
Basuki juga menyoroti perkembangan prestasi olahraga Kutim dalam beberapa tahun terakhir. Dalam ajang Pekan Olahraga Pelajar Daerah (POPDA), posisi Kutim disebut telah meningkat hingga masuk lima besar di Kalimantan. Capaian tersebut dinilai perlu dijaga melalui pembinaan yang lebih terstruktur.
Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kutim Rudi Hartono turut mendorong kepengurusan baru memprioritaskan atlet usia dini. Menurutnya, prestasi tidak dapat dibangun dalam waktu singkat sehingga proses pembinaan harus dimulai jauh sebelum atlet memasuki level kompetisi senior.
Ketua Pengprov PELTI Kaltim Khairul Anam menekankan pentingnya organisasi yang sehat, kuat, dan mampu bekerja lintas pihak. Sementara itu, Muskab diikuti tiga klub anggota, yakni Bara Tennis Club, Sangatta Bara Tennis Club, dan Mabar Tennis Club.
Forum tersebut sekaligus menjadi ruang evaluasi kepengurusan lama, pemilihan pengurus periode 2026–2030, dan penyusunan program kerja empat tahun mendatang. Dengan fondasi organisasi dan pembinaan yang lebih kuat, PELTI Kutim diharapkan dapat mengubah potensi atlet lokal menjadi prestasi yang lahir dari pembibitan sendiri, bukan ketergantungan pada talenta dari luar daerah. (ADV/ProkopimKutim/UB)
