SANGATTA – Kehamilan kembali setelah persalinan dapat terjadi sebelum menstruasi pertama datang. Kondisi ini membuat perencanaan keluarga menjadi bagian penting dalam masa pemulihan ibu, terutama untuk menghindari jarak kehamilan yang terlalu dekat.
Masa nifas yang berlangsung sekitar 42 hari merupakan periode ketika tubuh ibu beradaptasi setelah melahirkan. Pemulihan organ reproduksi, perubahan hormonal, hingga proses menyusui membutuhkan perhatian, termasuk dalam menentukan pilihan kontrasepsi yang sesuai.
Jarak kelahiran yang terlalu rapat tidak hanya berkaitan dengan kondisi ibu, tetapi juga dapat mempengaruhi pengasuhan dan tumbuh kembang anak. Karena itu, edukasi KB pascasalin menjadi salah satu pendekatan yang dapat mendukung upaya pencegahan stunting di Kutai Timur (Kutim).
Pemahaman tersebut menjadi materi dalam Sosialisasi Keluarga Berencana Pasca Salin sebagai Upaya Pencegahan Stunting yang digelar DPPKB Kutim di Ruang Tempudau, Kantor Bupati, baru-baru ini. Sekitar 100 peserta dari unsur penyuluh KB, kader TPK, kader KB, penggerak PKK, pasangan usia subur, dan undangan mengikuti kegiatan.
Ketua PC IBI Kutim, Yuliana Kala’Lembang, menjelaskan konseling KB merupakan komunikasi dua arah yang tidak memaksa. Pilihan kontrasepsi perlu disesuaikan dengan kondisi kesehatan, riwayat penyakit, status menyusui, serta rencana jumlah anak.
Peserta juga mendapat penjelasan mengenai MAL, kondom, IUD/AKDR, pil progestin, suntik tiga bulan, dan implant. MAL dapat digunakan apabila bayi berusia di bawah enam bulan, mendapat ASI eksklusif, serta ibu belum menstruasi.
“Tanpa perencanaan KB yang tepat, ibu berisiko mengalami kehamilan terlalu cepat yang dapat berdampak pada kesehatan ibu dan bayi,” kata Yuliana.
Kegiatan tersebut turut dirangkaikan dengan HUT ke-75 IBI dan Hari Bidan Internasional 2026. Plh Kepala DPPKB Kutim Yuriansyah berharap kemitraan dengan IBI semakin kuat agar pelayanan KB dan pendampingan ibu-anak terus berjalan optimal menuju Kutim Sejahtera. (ADV/ProkopimKutim/UB)
