SANGATTA — Penguatan konektivitas digital di Kutai Timur (Kutim) terus diarahkan agar mampu menopang kebutuhan pemerintahan sekaligus memperluas manfaat teknologi informasi bagi masyarakat. Langkah tersebut menjadi perhatian Pemkab Kutim bersama PT Telkom melalui pembahasan evaluasi layanan dan infrastruktur pendukung.
General Manager Telkom Kaltimtara Khaidar Subhan Rahman, menyampaikan bahwa pengelolaan jaringan dilakukan dengan pemantauan bandwidth secara rutin dan berjenjang. Setiap hasil pengecekan juga didokumentasikan untuk mendukung kebutuhan audit. Penguatan jaringan diprioritaskan pada koridor jalan utama serta kawasan yang pusat pertumbuhan.
Dalam pemetaan, sejumlah kawasan telah memperoleh akses jaringan. Salah satunya Desa Beno Harapan yang kini telah terpasang layanan internet. Di sisi lain, masih terdapat sejumlah titik yang membutuhkan perluasan konektivitas agar pelayanan digital dapat menjangkau wilayah secara lebih merata.
Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman, menegaskan bahwa kebutuhan terhadap internet semakin strategis seiring meningkatnya aktivitas masyarakat dan pemerintahan berbasis teknologi.
“Layanan internet yang baik menjadi salah satu kebutuhan penting dalam mendukung aktivitas masyarakat dan pemerintahan,” ujarnya.
Hasil pemetaan juga mencatat Desa Himba Lestari di Kecamatan Batu Ampar, Desa Telaga di Kecamatan Sangkulirang, Desa Pulau Miang, serta Desa Long Pejeng di Kecamatan Busang sebagai wilayah yang belum terjangkau. Pemkab Kutim menyiapkan wilayah tersebut untuk diusulkan sebagai prioritas kepada Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi).
Pembahasan mengenai kondisi tersebut berlangsung saat audiensi Bupati Kutim bersama Kepala Diskominfo Staper Kutim Ronny Bonar Hamonangan Siburian dan jajaran Telkom di Ruang Kerja Bupati. Forum itu menjadi bagian dari Post Implementation Review (PIR) Layanan Internet dan Layanan Pendukung Diskominfo Staper Kutim.
Telkom menyebut konsentrasi jaringan saat ini mencakup kawasan Sangatta, Bengalon, Karangan, dan Muara Wahau, dengan asumsi jangkauan hingga 20 kilometer dari setiap titik Fiber Optic (FO). Data tersebut menjadi bahan untuk melihat kebutuhan penguatan jaringan di lapangan. (ADV/ProkopimKutim/UB)
