SANGATTA – Gelombang protes masyarakat sipil bertajuk “Indonesia Gelap” nyaris terjadi di seluruh wilayah Tanah Air akhir-akhir ini. Salah satunya dari mahasiswa di Sangatta, Kabupaten Kutai Timur yang melancarkan unjuk rasa pada Kamis (27/2/2025). Aksi serentak ini menyoroti isu-isu nasional yang dinilai memprihatinkan, seperti masalah ketimpangan sosial, penurunan kualitas hidup, hingga lemahnya pengawasan terhadap kebijakan pemerintah.
Usai orasi bergantian di Simpang 3 Pendidikan, Kecamatan Sangatta Utara, puluhan mahasiswa menuju ke Gedung DPRD Kutai Timur. Salah satu demonstran, Ardian (29) meminta pemerintah agar segera menangani permasalahan saat ini yang mengancam sendi-sendi kehidupan masyarakat.
“Indonesia saat ini ibarat negara yang gelap, baik secara ekonomi, politik, dan sosial. Di tengah kenaikan harga kebutuhan pokok yang tak terkendali, pendidikan dan kesehatan yang semakin sulit diakses, kami sebagai mahasiswa merasa perlu untuk menyuarakan aspirasi ini,” ungkap Ardian dihadapan aparat kepolisian yang menghalangi massa aksi untuk masuk ke Gedung DPRD Kutai Timur.
Bukan hanya itu, sambungnya, demonstrasi tersebut juga menyoroti ketidakadilan sosial. Ia mengaku kecewa karena penegakan hukum dianggap tidak berpihak kepada rakyat kecil. Ditambah lagi, kesenjangan semakin melebar antara masyarakat kelas atas dan bawah.
Atas dasar persoalan tadi, ia menyerukan agar pemerintah lebih memprioritaskan kebutuhan rakyat. Termasuk meningkatkan pengawasan terhadap penggunaan anggaran negara yang dinilai tidak transparan.
Massa aksi yang terdiri dari GMNI, PMII, dan BEM STIPER Kutai Timur melayangkan sejumlah tuntutan. Salah satunya, mendesak pemerintah tidak melakukan pemangkasan anggaran pada sektor pendidikan dan perbaikan akses kesehatan. Mengingat kondisi terkini dinilai semakin sulit bagi masyarakat untuk mengakses hak-hak nya sebagai wargaa negara Indonesia, terutama di daerah pelosok Kutai Timur.
“Ketimpangan sosial ini harus segera diatasi. Kami mahasiswa merasa bahwa masa depan kita dan masyarakat Indonesia secara keseluruhan berada dalam ancaman jika kondisi ini terus berlanjut,” tegas Ardian.
Demonstrasi yang berlangsung sejak pagi ini berlangsung damai di sejumlah titik aksi. Dalam hal ini Simpang 3 Pendidikan, Kantor BPSDM, dan DPRD Kutai Timur.
Demonstran lainnya, yang tergabung dalam aliansi tersebut juga menegaskan persoalan serupa. Bahwa unjuk rasa ini bukan sekadar protes, tetapi juga upaya menggugah kesadaran publik dan pemerintah supaya lebih peka terhadap kondisi negara yang semakin terpuruk. Mereka berkomitmen untuk terus berjuang sampai perubahan yang diharapkan tercapai.
