Sosok Batta, Aktivis FRK yang Laporkan Kejanggalan APBD Kutai Timur 2025

25 Juli 2025
342 dilihat
1 min read

Sangatta – Di balik gemerlap berita ASN berprestasi, ada satu nama yang tidak muncul di media nasional, tidak dapat piagam, tidak punya lencana, dan tidak ikut pencitraan. Tapi suaranya bikin TAPD Kutai Timur gelisah: Batta.

Lahir di Polewali, dibesarkan di Campalagian, merantau ke Sangatta demi kuliah bukan demi jabatan. Ia masuk STIPER Kutai Timur jurusan Teknik Pertanian. Tapi hari-harinya lebih banyak diwarnai diskusi, advokasi, dan demonstrasi.

“Saya memang bukan ASN teladan. Tapi saya pernah bela PKL lawan Indomaret, Saya tidak dapat Bintang Satya. Tapi saya pernah bela Pak Benang di Bengalon, Saya tidak masuk headline media pemerintah, tapi saya pernah sidang KIP lawan Pemkab, tapi cerita saya begini gak mungkin diliput media nasional atau media lokal lainnya, mereka lebih suka liput ASN berprestasi,” ucapnya sambil tersenyum.

BACA JUGA  Kenyamanan Pengguna Jadi Tolok Ukur Penyempurnaan Infrastruktur Pelabuhan di Kutim

Itulah Batta, aktivis jalanan mantan ketua HMI Teknik Pertanian, terlibat dalam organisasi seni budaya juga anggota Anak Rimba dan jadi pionir di Fraksi Rakyat Kutim (FRK). Dia bukan siapa-siapa kecuali kalau bicara soal konsistensi.

Waktu perubahan RKPD 2025 disusun, aktivis FRK itu mendengar kabar aneh. “Katanya disusun TAPD, tapi kok yang dominan satu orang?” Batta geleng-geleng.

Maka, dia mengirim laporan resmi. Bukan status Facebook atau komentar anonim. Tapi dokumen resmi dengan nomor, tanda tangan, dan lampiran KTP. Saking seriusnya, jika bisa RKPD itu dibatalkan, sekalian diseminarkan ulang dengan semua perangkat daerah.

Beberapa hari kemudian, muncullah berita: “ASN Berprestasi”, “ASN Arsitek Pembangunan Kutim!” dan banyak tajuk lainnya. Dia pun bingung: “Wah, ini ASN atau Avengers?,” tanyanya. Tapi dia tidak marah, lalu menyesap kopi dan bilang, “Prestasi boleh dibangun lewat berita, tapi kebenaran dibangun lewat prinsip,” tegasnya.

BACA JUGA  Bertahan di Jalur Konvensional: Strategi Pengembangan Ekraf Daerah yang Terbukti Tangguh

Usai menyeruput habis kopi hitamnya, dia pun menegaskan bahwa menjadi aktivis bukan soal viral, tapi keberpihakan. Dia berterus terang telah berkali-kali ditawar jadi “kaya”, hingga dilobi agar diam. Namun, upaya membungkam seperti itu takkan berefek apapun baginya.

“Sekali bilang A, maka A. Sekali lawan, maka lawan asal kita benar dan untuk masyarakat luas, tapi, ya, begitulah sekali melayangkan laporan, maka siap-siap dituduh subversif,” jelasnya.

Dari membaca, dia belajar bahwa setiap kebijakan mesti dikaji. Jangan telan mentah-mentah, nanti sakit perut. Sebab, bilang dia, “Apabila rakyat tak berani mengeluh, itu artinya sudah gawat. Bila omongan penguasa tak boleh dibantah, kebenaran pasti terancam,” tutupnya. (*/fbr/edi)

Jangan Lewatkan