
SANGATTA – Geliat usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) produk kuliner khas amplang di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) hingga saat ini masih berada dalam fase perjuangan berat untuk dapat bangkit sepenuhnya dari dampak pandemi COVID-19. Kondisi ini diungkapkan secara gamblang oleh Yusri Yusuf, anggota Komisi B DPRD Kutim, yang menyatakan bahwa sejumlah kelompok produsen amplang yang sebelumnya aktif, saat ini berada dalam kondisi yang ia sebut sebagai “mati suri”.
“Ya, sebenarnya Amplang itu sudah pernah ada dan masih ada, tapi ada beberapa kelompok yang sudah mati suri,” kata Yusri Yusuf di Sangatta.
Pernyataan “mati suri” ini menggambarkan kondisi usaha yang masih bernyawa secara hukum atau potensi, namun tidak lagi menunjukkan aktivitas produksi yang aktif dan berkelanjutan. Keadaan ini membutuhkan stimulus atau intervensi tertentu untuk dapat menghidupkannya kembali.
Yusri kemudian memberikan konteks historis dengan menjelaskan bahwa UMKM amplang sebenarnya sempat menunjukkan perkembangan dan tren yang positif sebelum masa pandemi melanda. Namun, dampak luas dari wabah COVID-19 memberikan pukulan yang sangat berat.
“Karena kemarin Amplang itu kan sempat berkembang sebelum COVID. Setelah COVID-19, mereka sudah tidak bisa produksi lagi karena mungkin kehabisan modal atau kelemahan ekonomi, akhirnya mereka stagnan,” ujarnya.
Analisis dari anggota dewan ini menyentuh akar permasalahan yang klasik namun krusial: modal. Frasa “kehabisan modal” menunjuk pada habisnya cadangan keuangan selama masa krisis ketika penjualan terhenti, sementara “kelemahan ekonomi” dapat ditafsirkan sebagai struktur keuangan usaha yang memang sudah rapuh sejak awal.
Lebih lanjut, politisi tersebut memperluas perspektif dengan menyoroti betapa sulit dan kompleksnya proses pemulihan ekonomi pasca-krisis global. Ia memberikan penekanan bahwa dampak yang dirasakan tidak hanya melanda usaha-usaha skala kecil dan mikro seperti UMKM amplang.
“Ya, jangan kan usaha kecil, usaha besar saja masih banyak yang masih terseok-seok untuk mengembangkan kembali usaha dia, itu yang jadi permasalahan,” tandas Yusri.
Pernyataan perbandingan ini berfungsi untuk memperjelas betapa dalamnya luka ekonomi yang ditinggalkan oleh pandemi. Realitas ini menunjukkan bahwa pemulihan ekonomi pasca-pandemi bukanlah proses yang linear dan mudah, tetapi sebuah maraton yang melelahkan bagi seluruh pelaku usaha.
Pernyataan-pernyataan ini secara kolektif menegaskan bahwa tantangan pemulihan ekonomi, khususnya di sektor UMKM kuliner khas Kutim seperti amplang, masih sangat nyata dan membutuhkan perhatian serta intervensi yang lebih serius dari berbagai pihak. (ADV)
