Kualitas Konstruksi Jadi Penentu Daya Tahan Infrastruktur Akses Pelabuhan Kutim

11 November 2025
456 dilihat
1 min read

SANGATTA – Pembangunan infrastruktur pendukung pelabuhan, khususnya akses jalan menuju kawasan pelabuhan, dinilai harus secara konsisten memprioritaskan aspek kualitas material, teknik konstruksi, dan keberlanjutan sebagai prinsip utama. Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kutai Timur, Faizal Rachman, menekankan bahwa proses perencanaan teknis yang matang sangat krusial untuk memastikan daya tahan dan kinerja setiap struktur bangunan dan jalan yang dibangun.

Faizal menyatakan bahwa harapan masyarakat dan dunia usaha adalah proses pembangunan harus menerapkan standar mutu serta spesifikasi teknik yang tinggi, bukan sekadar memenuhi syarat administratif minimal. Hal ini penting agar infrastruktur yang dihasilkan dari anggaran publik tidak cepat rusak dan dapat dimanfaatkan secara optimal dalam jangka panjang.

“Harapannya pembangunan di kenyamanan itu betul-betul harus dipikirkan kualitasnya sehingga daya tahan dari bangunan itu bisa tahan lama, sehingga nanti akses ke pelabuhan kita itu sudah bisa digunakan,” ujar Faizal Rachman.

BACA JUGA  Orientasi Baru Pembangunan: DPRD Kutim Desak Penguatan Perkebunan Berbasis Masyarakat sebagai Pilar Kemandirian Ekonomi Daerah

Pernyataan ini menekankan pada tiga elemen kunci: pemikiran mendalam tentang kualitas, tujuan daya tahan yang lama, dan outcome akhir yaitu akses yang dapat digunakan secara berkelanjutan. Ia juga mengingatkan pentingnya keseimbangan antara percepatan pembukaan akses dan pemenuhan standar infrastruktur yang ditetapkan. Sebuah jalan yang dibangun dengan tergesa-gesa untuk mengejar target fisik semata, tetapi mengabaikan kualitas material dan proses quality control yang ketat, justru akan menimbulkan masalah baru yang lebih kompleks.

Kerusakan jalan yang prematur tidak hanya akan mengganggu kenyamanan tetapi lebih jauh akan menghambat arus logistik, meningkatkan biaya perawatan kendaraan, dan pada akhirnya merugikan masyarakat serta dunia usaha secara ekonomi.

“Karena jangan sampai akses pembangunan sudah bisa digunakan tapi infrastrukturnya itu kurang standar jadi jalannya tambah rusak,” tambahnya menegaskan.

Peringatan “jangan sampai” ini merupakan pesan kritis untuk mencegah kesalahan perencanaan yang berulang. Faizal menegaskan bahwa komitmen kolektif untuk peningkatan kualitas secara berkesinambungan harus menjadi prinsip utama dalam setiap tahapan proyek, dari perencanaan, pelaksanaan, hingga penyerahan akhir.

BACA JUGA  Ketahanan Pangan di Kutim Terganjal Lahan Tidur, DPRD Minta Statusnya Dibenahi

Pemerintah daerah sebagai penanggung jawab utama dituntut untuk konsisten dan disiplin dalam menerapkan sistem pengawasan mutu dan menegakkan standar teknis yang ketat di lapangan, termasuk terhadap para kontraktor pelaksana.

“Harapannya harus selalu kita tingkatkan,” pungkas Faizal.

Pernyataan penutup ini menyiratkan filosofi perbaikan terus-menerus. Pembangunan infrastruktur pelabuhan dan aksesnya tidak boleh hanya berorientasi pada pencapaian target fisik dan politis jangka pendek, melainkan harus berfokus pada penciptaan aset publik yang andal, bermutu tinggi, dan berkelanjutan untuk puluhan tahun ke depan.

Dengan infrastruktur akses pelabuhan yang berkualitas tinggi dan memiliki daya tahan yang baik, diharapkan efisiensi rantai pasok logistik dan aktivitas perekonomian daerah dapat terdongkrak secara signifikan, sekaligus menghindari pemborosan anggaran untuk perbaikan berulang yang tidak perlu. (ADV)

Jangan Lewatkan