
SANGATTA – Pembangunan infrastruktur pelabuhan di Kutai Timur dinilai tidak boleh hanya berorientasi pada ketersediaan fasilitas fisik semata, tetapi harus secara komprehensif mengutamakan aspek kenyamanan serta pengalaman pengguna jasa sebagai elemen kunci. Hal ini disampaikan oleh Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kutai Timur, Faizal Rachman, sebagai bagian dari evaluasi terhadap perkembangan infrastruktur transportasi laut daerah.
Faizal menjelaskan bahwa esensi dari pembangunan pelabuhan modern adalah untuk menciptakan sistem pelayanan logistik dan transportasi yang optimal, efisien, dan manusiawi. Infrastruktur yang dibangun dengan anggaran besar harus memiliki tujuan yang jelas dan terukur dalam menjamin kelayakan operasional serta pelayanan pelabuhan secara berkelanjutan.
“Pelabuhan, infrastruktur, kenyamanan itu kan dibangun karena yang paling terpenting untuk mempersiapkan kita untuk pelabuhan,” ujar Faizal.
Pernyataan ini menekankan pada tujuan fungsional yang lebih dalam, di mana infrastruktur dan kenyamanan adalah prasyarat untuk menciptakan pelabuhan yang berfungsi optimal. Ia melanjutkan bahwa dalam konteks pembangunan berkelanjutan, standar kenyamanan menjadi parameter keberhasilan yang tidak boleh diabaikan. Sebuah pelabuhan yang dirancang dengan mempertimbangkan kenyamanan pengguna akan memberikan pengalaman pelayanan yang lebih baik dan positif.
Dampak ini tidak hanya dirasakan oleh penumpang yang transit, tetapi juga akan meningkatkan kepuasan para pemilik kapal, perusahaan jasa logistik, awak kapal, dan pedagang yang aktivitas ekonominya bergantung pada kelancaran pelabuhan. Oleh karena itu, menurut Faizal, upaya sistematis untuk meningkatkan tingkat kenyamanan harus menjadi prioritas strategis yang terus dievaluasi.
Pembangunan fisik yang telah dilakukan tidak boleh berhenti pada tahap serah terima, melainkan harus disertai dengan komitmen untuk terus melakukan evaluasi periodik, pemeliharaan rutin, dan perbaikan berkelanjutan di berbagai aspek layanan.
“Jadi sebaiknya kenyamanan itu lebih baik dan itu harus terus disempurnakan,” tegasnya.
Penegasan untuk “terus disempurnakan” ini mengandung makna bahwa pembangunan adalah proses dinamis tanpa titik akhir. Pernyataan Faizal mengisyaratkan bahwa pembangunan infrastruktur pelabuhan harus dilihat sebagai proses dinamis yang terus berputar, bukan sekadar proyek fisik yang bersifat satu kali.
Penyempurnaan berkelanjutan terhadap seluruh fasilitas penunjang kenyamanan, seperti ruang tunggu yang representatif, toilet yang higienis, rest area yang nyaman, sistem informasi penumpang yang real-time, serta aksesibilitas bagi penyandang disabilitas dan lanjut usia, dianggap sebagai kunci utama untuk meningkatkan daya saing dan kualitas pelayanan pelabuhan secara keseluruhan.
Dengan pendekatan yang holistik dan berkelanjutan ini, diharapkan pelabuhan di Kutai Timur tidak hanya berfungsi sebagai titik bongkar muat barang dan orang, tetapi juga dapat bertransformasi menjadi gerbang wilayah yang mencerminkan efisiensi, keramahan, dan kenyamanan, yang pada akhirnya akan menjadi katalisator bagi pertumbuhan ekonomi lokal. (ADV)
