SANGATTA – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) mendorong perubahan cara pandang terhadap Dana Desa. Anggaran yang selama ini banyak dikaitkan dengan pembangunan infrastruktur didorong untuk ikut menopang upaya pencegahan dan penanganan AIDS, Tuberkulosis (TBC), serta malaria. Kebijakan tersebut dinilai dapat memperkuat perlindungan kesehatan masyarakat dari tingkat paling dekat dengan warga.
Gagasan itu dibahas dalam Forum Kemitraan Penanggulangan Penyakit ATM yang digelar Dinas Kesehatan Kutim. Forum mempertemukan unsur pemerintah, organisasi kesehatan, kecamatan, dan pemangku kepentingan lain untuk membahas strategi menuju eliminasi penyakit ATM pada 2030.
PSM Ahli Muda DPMDes Kutim Triee Susanti Mandasari menjelaskan, Peraturan Menteri Desa Nomor 16 Tahun 2025 tentang Prioritas Penggunaan Dana Desa 2026 memberikan ruang bagi desa membiayai kegiatan kesehatan masyarakat, termasuk pencegahan dan pengendalian HIV/AIDS, TBC, serta malaria.
Menurut Triee, penyakit ATM dapat menimbulkan dampak ekonomi bagi keluarga. Warga yang sakit dalam waktu lama dapat kehilangan penghasilan, sementara kebutuhan pengobatan dan pendampingan justru meningkat. Karena itu, desa perlu mengambil peran sejak tahap pencegahan.
Penguatan Desa Siaga dapat dilakukan melalui edukasi perilaku hidup bersih dan sehat, penyediaan air bersih serta sanitasi, pengelolaan lingkungan, dan pengawasan kesehatan berbasis masyarakat. Kader desa dinilai penting untuk menemukan gejala lebih awal dan menghubungkan warga dengan layanan kesehatan.
Khusus TBC, desa juga dapat membantu pasien menyelesaikan pengobatan melalui pendampingan keluarga, dukungan sosial, transportasi menuju fasilitas kesehatan, dan bantuan kebutuhan gizi sesuai aturan. Setelah sembuh, penyintas juga perlu memperoleh kesempatan kembali produktif melalui pemberdayaan ekonomi.
Agar program tidak bersifat sementara, kebutuhan kesehatan harus dibahas melalui Musyawarah Desa, dimasukkan dalam RKPDes, lalu dianggarkan melalui APBDes. Dengan demikian, Dana Desa tidak hanya meninggalkan pembangunan fisik, tetapi juga memperkuat daya tahan kesehatan warga dan mendukung pencapaian eliminasi penyakit ATM pada 2030. (ADV/ProkopimKutim/UB)
