UMKM Kayan Umaq Lekan Kembangkan Batik Khas Dayak Kayan

9 Agustus 2026
288 dilihat
1 min read

KOMBENG – Festival UFAH 2026 memperlihatkan bagaimana dukungan terhadap usaha kecil dapat membuka jalan baru bagi pelestarian budaya masyarakat Dayak Kayan. Di Desa Miau Baru, Kecamatan Kombeng, produk batik Kayan Umaq Lekan diperkenalkan sebagai karya UMKM yang menggabungkan busana dengan motif ukiran tradisional Dayak Kayan.

Perwakilan UMKM Kayan Umaq Lekan menjelaskan usaha tersebut berkembang dengan dukungan berbagai pihak. Bantuan mesin jahit, fasilitas produksi, serta pelatihan menjahit menjadi modal untuk meningkatkan kemampuan para pelaku usaha dalam menghasilkan produk fesyen secara lebih mandiri.

Baju batik tersebut diterima secara simbolis oleh Bupati Kutai Timur Ardiansyah Sulaiman dan Wakil Bupati Mahyunadi pada Minggu, 9 Agustus 2026. Kehadirannya menjadi bagian dari rangkaian festival yang sebelumnya lebih dikenal melalui penampilan seni dan ritual masyarakat Kayan.

BACA JUGA  Bekali Pelaku Wisata, Dispar Kutim Perkuat Promosi Destinasi Lewat Konten Digital

Bupati Ardiansyah mengatakan pemerintah daerah menyambut baik inovasi masyarakat yang menggabungkan kebudayaan dan kegiatan ekonomi. Menurut dia, adat dan budaya merupakan salah satu fondasi penting dalam pembangunan Kutim sekaligus unsur yang menyatukan masyarakat dari berbagai kelompok.

Ia menilai pelestarian budaya akan semakin kuat apabila masyarakat diberi ruang untuk mengembangkannya dalam kehidupan sehari-hari. Produk UMKM, dalam konteks tersebut, dapat menjadi salah satu sarana untuk membawa identitas lokal keluar dari ruang pertunjukan.

Dukungan lain datang melalui perlindungan hak kekayaan intelektual. Produk yang dikenakan dalam kegiatan tersebut disebut telah memperoleh HAKI dari DSN Group. Perlindungan tersebut dinilai penting untuk menjaga karya sekaligus memberikan kepastian bagi pengembangan usaha.

BACA JUGA  Jalur Sangatta–Bengalon Bersiap dengan Perlintasan Baru di Crossing 4

Batik Kayan Umaq Lekan pada akhirnya memperlihatkan bahwa produk budaya tidak harus berhenti sebagai cendera mata atau bagian dari upacara. Ketika keterampilan lokal bertemu dukungan produksi dan akses pasar, kebudayaan dapat berubah menjadi aset ekonomi sekaligus memberi peluang baru bagi pelaku UMKM di Kutai Timur. (ADV/ProkopimKutim/UB)