Kutim Mengejar Swasembada di Tengah Kesenjangan Produksi Beras

31 Juli 2026
305 dilihat
1 min read

SANGATTA – Perluasan sawah hingga 20 ribu hektare bukan satu-satunya jalan yang disiapkan Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) untuk mengejar swasembada beras. Bersama TNI, khususnya Kodim 0909/KTM, pemerintah menyiapkan intensifikasi melalui benih unggul, pemupukan berimbang, mekanisasi, serta modernisasi dan optimalisasi jaringan irigasi. Program ini bertujuan mempercepat pembangunan sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pasokan beras dari luar daerah.

Pilihan strategi tersebut menjadi penting karena pembukaan lahan baru menghadapi persoalan di lapangan. Kepala DTPHP Kutim, Dyah Ratnaningrum, menyebut sejumlah lokasi beririsan dengan perkebunan sawit, perusahaan tambang, dan tanah masyarakat. Penataan juga harus melibatkan Badan Pertanahan, Perkim, Dinas Perkebunan, Bappeda, Dinas Pertanahan, serta Balai TNK agar lahan yang digunakan clean and clear.

BACA JUGA  Hadapi Tekanan Fiskal, Kutim Siapkan Ekonomi Alternatif di Luar Tambang

Disaat yang sama, peningkatan produksi perlu dikejar dari lahan yang sudah tersedia. Kutim kini memiliki sekitar 2.638 hektare sawah dengan produktivitas rata-rata lima ton GKG per hektare per tahunnya. Dari luasan tersebut dihasilkan sekitar 13.190 ton gabah. Setelah dikonversi dengan rendemen 60–62 persen, produksi beras hanya sekitar 8 ribu ton atau baru memenuhi 18 persen kebutuhan.

Gambaran itu menjadi lebih berat ketika dibandingkan dengan konsumsi tahunan. Penduduk Kutim yang mendekati 430 ribu jiwa membutuhkan sekitar 43 ribu ton beras per tahun, berdasarkan asumsi konsumsi 100 kilogram per orang. Dengan demikian, daerah masih menghadapi kekurangan sekitar 35 ribu ton dan ketergantungan pasokan dari luar.

BACA JUGA  Jejak Pencegahan Stunting Kutim: Dari Remaja hingga Generasi Mendatang

Jika seluruh kebutuhan hendak dipenuhi dari produksi lokal, diperlukan sekitar 69 ribu ton GKG. Pada produktivitas sekarang, angka tersebut setara dengan kebutuhan 13.800 hektare sawah. Dari lahan eksisting, masih terdapat selisih sekitar 11.233 hektare.

Karena itu, pemerintah tidak hanya mengandalkan ekstensifikasi. Peningkatan indeks pertanaman, pengurangan kehilangan hasil pascapanen, dan diversifikasi pangan turut didorong. Kombinasi penambahan lahan, produktivitas, efisiensi, serta pengurangan ketergantungan dari luar daerah menjadi fondasi untuk memperkuat ketahanan serta kedaulatan pangan Kutim. (ADV/ProkopimKutim/UB)