Jejak Pencegahan Stunting Kutim: Dari Remaja hingga Generasi Mendatang

12 Agustus 2026
418 dilihat
1 min read

SANGATTA – Penanganan stunting di Kutai Timur (Kutim) tidak hanya dilakukan ketika persoalan pertumbuhan sudah terlihat pada anak. Pemerintah daerah memperluas intervensi dari layanan balita hingga pembinaan remaja, dengan harapan pencegahan dapat dilakukan sejak jauh sebelum seorang anak lahir.

Di tingkat layanan dasar, posyandu dan puskesmas menjadi garda penting melalui pemberian makanan tambahan, imunisasi, pemeriksaan kesehatan, serta pemantauan pertumbuhan. Balita yang mengalami masalah gizi juga mendapat kunjungan rumah, pemeriksaan dokter spesialis, dan suplemen tambahan.

Langkah tersebut kemudian diperluas kepada calon pengantin, ibu hamil, dan ibu menyusui melalui edukasi mengenai kebutuhan nutrisi keluarga. Pemerintah juga menyiapkan skrining serentak, pendampingan data aksi konvergensi, serta pra-musyawarah tematik stunting.

BACA JUGA  RSUD Muara Wahau, Upaya Pemkab Kutim Perluas Akses Layanan Kesehatan

Namun, pencegahan tidak berhenti pada kelompok yang sudah memasuki masa berkeluarga. Remaja putri ditempatkan sebagai salah satu sasaran penting karena mereka merupakan calon ibu di masa mendatang. Pembiasaan hidup sehat sejak sekolah diharapkan menjadi bekal untuk membangun keluarga yang sehat.

Pendekatan itu dijalankan melalui Aksi Bergizi, program yang mendorong konsumsi tablet tambah darah, pola makan bergizi seimbang, aktivitas fisik, serta pemahaman kesehatan reproduksi.

Kepala Bidang Pemerintahan dan Pembangunan Manusia Bappeda Kutim, Mitha Ferdina, menegaskan arah kebijakan tersebut. 

“Kami berharap prevalensi stunting di Kutai Timur dapat turun signifikan hingga mencapai 19,38 persen pada tahun 2029,” ujarnya.

Untuk melihat perkembangan kondisi gizi, pemerintah menggunakan e-PPGBM serta SSGI-SKI sebagai instrumen pemantauan dan evaluasi.

BACA JUGA  Kondisi Ekonomi Kutim Stabil, Pengendalian Inflasi Tetap Jadi Prioritas Pemkab Kutim

Berdasarkan RPJMD Kutim 2025–2029, prevalensi stunting sebesar 26,9 persen pada 2024 ditargetkan turun menjadi 25,35 persen pada 2025, 23,7 persen pada 2026, 22,16 persen pada 2027, 20,72 persen pada 2028, hingga 19,38 persen pada 2029.

Target tersebut menunjukkan bahwa pencegahan stunting di Kutim dibangun sebagai kerja berkelanjutan, dengan remaja, ibu, dan anak menjadi bagian dari satu rantai intervensi. (ADV/ProkopimKutim/UB)

 

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published.