Di Tengah Tekanan Ekonomi, Pedagang Pasar Sangatta Perkuat Barisan

28 Juli 2026
6 dilihat
1 min read

SANGATTA – Aktivitas perdagangan di Pasar Induk Sangatta menjadi salah satu pendorong perputaran ekonomi masyarakat Kutai Timur (Kutim). Di tengah perubahan daya beli dan tekanan biaya distribusi, penguatan pedagang dinilai membutuhkan wadah yang mampu menyalurkan aspirasi dan kepentingan mereka kepada pemerintah.

Kebutuhan tersebut mendapat momentum melalui pengukuhan Asosiasi Pedagang Pasar Induk Sangatta (APPISTA) oleh Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman di kawasan Pasar Induk Sangatta. Ketua DPRD Kutim Jimmi serta Kepala Disperindag Kutim Nora Ramadani turut hadir dalam kegiatan tersebut.

Sudarman, sebagai Ketua Umum APPISTA menegaskan organisasi yang berdiri sejak 2019 itu akan menjadi jembatan antara pedagang dan pemerintah, sekaligus memperjuangkan peningkatan kesejahteraan anggota. 

BACA JUGA  Nasib Bankeu Provinsi Dipertanyakan, DPRD Kaltim Khawatir Aspirasi Warga Terhambat

“Fokus utama kami adalah ikut serta dalam mendorong tingkat kesejahteraan para pedagang di Pasar Induk Sangatta,” ujarnya.

Nora mengapresiasi keberadaan APPISTA yang telah berdiri sejak 2019, serta menyebut Pasar Induk Sangatta tetap kondusif dan bebas dari praktik premanisme. Menurutnya, pedagang disitu juga menjadi salah satu penyumbang PAD yang signifikan bagi daerah.

Namun tantangan perdagangan kini turut dipengaruhi situasi global. Konflik di Timur Tengah, menurut Nora, mendorong harga bahan baku kimia naik sekitar 30-50% dan berdampak pada rantai pasok.

Di sisi lain, Ardiansyah menjelaskan kondisi ekonomi Kutim yang fluktuatif. Laju Pertumbuhan Ekonomi 2024 mencapai 9,82 persen, tetapi pada 2025 terkoreksi menjadi sekitar 1,05–1,3 persen. Kontraksi pertambangan akibat pengendalian eksplorasi turut menekan daya beli dan belanja masyarakat.

BACA JUGA  APBD Kutim Turun Hampir 50 Persen, Prioritas Pembangunan Jalan Skema Multiyears

Meski demikian, tanpa menghitung sektor tambang, pertumbuhan ekonomi Kutim disebut bisa mencapai sekitar 11 persen, ditopang perkebunan, industri pengolahan, dan perdagangan. Kenaikan retribusi pasar juga dinilai menunjukkan ekonomi kerakyatan tetap bertahan.

Pemerintah pun akan memperkuat sinergi dengan BPR Kutim untuk membantu akses permodalan pedagang. Pengukuhan APPISTA diharapkan menjadi awal penguatan ekonomi. (ADV/ProkopimKutim/UB)