Bertahan di Jalur Konvensional: Strategi Pengembangan Ekraf Daerah yang Terbukti Tangguh

16 November 2025
477 dilihat
1 min read

SANGATTA – Upaya pengembangan ekonomi kreatif di daerah masih bertumpu pada sektor-sektor konvensional yang telah ada, belum merambah ke bidang-bidang digital yang sedang tren di tingkat nasional. Fokus pengembangan lebih banyak diarahkan pada pemberdayaan wirausaha lokal di bidang kuliner, industri kecil, dan kerajinan tangan yang menjadi potensi unggulan masyarakat setempat.

Yusri Yusuf selaku anggota DPRD Kutim, menjelaskan kondisi yang ada di lapangan. “Kalau ekonomi kreatif kita masih konvensional pengembangan wirausaha untuk mereka berdaya lah baik itu makanan industri kecil-kecil dan kreativitas mereka begitu,” ujarnya saat ditemui di sela-sela kegiatan pelatihan UMKM.

Pendekatan pengembangan yang masih konvensional ini sebenarnya memiliki dasar yang kuat, mengingat sebagian besar pelaku ekonomi kreatif di daerah memang bergerak di sektor riil yang langsung bersentuhan dengan kebutuhan sehari-hari masyarakat. Industri makanan dan minuman, serta berbagai kerajinan tangan khas daerah, menjadi tulang punggung perekonomian kreatif lokal yang telah terbukti daya tahannya.

BACA JUGA  Analisis Multifaktor: Pemerintah Kutim Buka Suara Soal Kompleksitas Penyebab Kerusakan Jalan di Wilayahnya

Meski demikian, tantangan ke depan adalah bagaimana meningkatkan nilai tambah dari produk-produk konvensional tersebut tanpa menghilangkan karakteristik lokal yang menjadi daya tarik utamanya. Inovasi dalam kemasan, strategi pemasaran, dan perluasan jaringan distribusi menjadi hal-hal krusial yang perlu mendapat perhatian serius dari berbagai pihak.

Pemerintah daerah bersama stakeholder terkait terus berupaya mendorong peningkatan kualitas dan daya saing produk-produk ekonomi kreatif lokal. Berbagai pelatihan dan pendampingan diberikan kepada pelaku usaha untuk meningkatkan kapasitas dan kemampuan berwirausaha mereka, meski masih dalam koridor pengembangan yang konvensional.

Program-program pelatihan difokuskan pada peningkatan keterampilan teknis, manajemen usaha, dan pemasaran yang sesuai dengan konteks lokal. Pendekatan ini dianggap paling feasible mengingat karakteristik dan kemampuan sebagian besar pelaku usaha di daerah.

BACA JUGA  Agar Tak Sia-Sia, Kutim Terbitkan Peta Jalan untuk Program CSR Perusahaan

Ke depan, diharapkan terjadi integrasi antara kekuatan ekonomi kreatif konvensional dengan peluang yang ditawarkan oleh ekonomi digital. Dengan demikian, produk-produk lokal yang selama ini hanya dinikmati oleh pasar terbatas dapat menjangkau konsumen yang lebih luas tanpa harus kehilangan identitas dan kekhasan yang menjadi nilai jual utamanya.

Transformasi digital sektor konvensional ini perlu dilakukan secara bertahap dan terencana agar tidak mengganggu kelangsungan usaha yang sudah berjalan. Pendekatan hybrid yang memadukan kekuatan tradisi dan modernitas dipandang sebagai solusi terbaik untuk memajukan ekonomi kreatif daerah di era digital.

Peningkatan kualitas dan standarisasi produk juga mutlak diperlukan untuk bersaing di pasar yang semakin kompetitif. Pengembangan merek dan cerita di balik produk dapat menjadi strategi untuk meningkatkan daya tarik produk-produk lokal di mata konsumen modern. (ADV)

Jangan Lewatkan