Kutim Diingatkan Kembali ke Jalan Awal: Visi Pertanian dan Perkebunan untuk Lepas dari Candu Batu Bara

22 November 2025
391 dilihat
1 min read

Kutim Diingatkan Kembali ke Jalan Awal: Visi Pertanian dan Perkebunan untuk Lepas dari Candu Batu Bara

SANGATTA – Anggota DPRD Kabupaten Kutai Timur (Kutim) dari Komisi B, Faisal Rachman, mengingatkan kembali visi awal dan fondasi pembangunan ekonomi daerah yang sempat menjadi semangat kolektif. Menurutnya, cita-cita untuk mencapai kemandirian ekonomi melalui penguatan sektor pertanian dan perkebunan telah menjadi roh dan landasan sejak Kutim pertama kali didirikan.

“Ekonomi kita dari sejak Kutai Timur itu didirikan, semangat pertama kali adalah bagaimana Kutai Timur itu mandiri dari bidang pertanian dan perkebunan,” ujar Faisal.

Pernyataan ini bukan sekadar kilas balik, melainkan penegasan bahwa arah pembangunan yang berkelanjutan telah dicanangkan sejak awal. Frasa “semangat pertama kali” menekankan bahwa pertanian dan perkebunan adalah pilihan strategis yang disengaja.

BACA JUGA  Ancaman Pemotongan DBH Hambat Upaya Diversifikasi Sumber Investasi Daerah di Kutai Timur

Ia menjelaskan bahwa komitmen nyata terhadap visi ini telah diwujudkan dalam program-program strategis di era kepemimpinan Bupati pertama. Gagasan besar tersebut dahulu diwujudkan dalam sebuah gerakan terstruktur yang dicanangkan secara khusus untuk mendorong pembangunan ekonomi yang berbasis kerakyatan.

“Kan ketika Kutai Timur pertama didirikan, makanya ada namanya program dulu diwacanakan oleh Alm. Bapak Awang, bupati kita yang pertama Gerdabang (Gerakan Pengembangan Pertanian dan Perkebunan).”

Dengan menyebut nama Alm. Bupati Awang Faroek Ishak dan program legendaris Gerdabang, Faisal hendak menegaskan bahwa visi ini memiliki akar historis dan legitimasi yang kuat.

Faisal menegaskan bahwa fokus pada pertanian dan perkebunan ini justru semakin relevan dan mendesak hingga saat ini. Tujuannya adalah untuk secara bertahap namun pasti mengalihkan ketergantungan ekonomi daerah dari sektor sumber daya alam tak terbarukan.

BACA JUGA  Orientasi Baru Pembangunan: DPRD Kutim Desak Penguatan Perkebunan Berbasis Masyarakat sebagai Pilar Kemandirian Ekonomi Daerah

“Dan fokus kita adalah bagaimana Kutai Timur ke depan itu tidak lagi bertumpu kepada sumber daya alam yang tidak bisa diperbarui.”

Penekanan pada “tidak bisa diperbarui” adalah peringatan tentang kerapuhan fondasi ekonomi yang sekarang. Hal ini sekaligus menjadi pembenaran kuat mengapa transisi menuju pertanian dan perkebunan bukan lagi pilihan, melainkan sebuah keharusan.

“Tapi bagaimana Kutai Timur bisa mandiri di bidang pertanian, perkebunan dan pengolahan hasilnya.”

Pernyataan penutupnya ini merupakan sebuah pertanyaan retoris sekaligus penegasan komitmen. Tujuannya jelas: memastikan kesejahteraan yang berkelanjutan, adil, dan merata bagi seluruh masyarakat Kutim. (ADV)

Jangan Lewatkan