KEK Maloy Dinilai Belum ‘Angkat Gigi’ untuk Genjot Industri Hilir CPO

18 November 2025
404 dilihat
1 min read

SANGATTA – Potensi strategis Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Maloy untuk mendorong industrialisasi hilir di Kutai Timur (Kutim) kembali disoroti anggota dewan. Anggota Komisi C Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kutai Timur, Novel Tyty Paembonan, secara terbuka menyatakan kekecewaannya atas belum optimalnya pemanfaatan KEK Maloy untuk mendukung pengembangan industri hilir minyak sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO) di daerah tersebut.

Paembonan menyoroti keraguan dan ambiguitas yang menyelimuti status operasional KEK Maloy. Ketidakpastian ini dinilai menjadi faktor fundamental yang menghambat perencanaan dan investasi jangka panjang untuk sektor hilir CPO.

“Kemarin tuh, kawasan ekonomi khusus Maloy masuk, tapi kan ternyata tidak, yang saya baca. Nah, ini kan sangat disayangkan,” ujarnya.

Meskipun mengakui tidak memiliki informasi lengkap dan mutakhir mengenai detail status kawasan tersebut, politikus dari Komisi C ini menekankan posisi strategis Kutim sebagai salah satu penghasil komoditas CPO terbesar. Potensi bahan baku yang melimpah ini seharusnya menjadi modal dasar untuk membangun industri hilir yang kuat.

BACA JUGA  Kebijakan Integratif: Kunci Keberhasilan Pengelolaan Jalan di Kutai Timur Menuju Infrastruktur Berkelanjutan

“Nah, itu yang saya kurang tahu. Sementara, menurut saya, kita ini kan penghasil CPO besar,” katanya.

Berdasarkan potensi CPO yang besar itu, Paembonan mengusulkan sebuah visi strategis untuk memaksimalkan peran KEK Maloy, yang dianggapnya masih jauh dari kata optimal. Ia mengusulkan agar KEK Maloy difungsikan secara maksimal sebagai pusat logistik dan hilirisasi CPO skala regional. Konsep ini bertujuan untuk memusatkan dan mengkonsolidasikan seluruh aktivitas nilai tambah dari komoditas sawit di satu lokasi yang terintegrasi.

“Nah, kalau CPO itu diturunkan di Maloy semua, ya kan, bulking station-nya di sana. Coba. Kapal-kapal masuk untuk mengangkat CPO itu, bahkan misalnya yang saya bilang tadi, hilirisasi, kita buat saja di Maloy,” papar Paembonan secara detail.

BACA JUGA  Damkar Kutim Ingatkan Warga: Niat Baik Jadi 'Pahlawan' Saat Kebakaran Bisa Berbalik Petaka

Gagasan konkret ini tidak hanya menegaskan harapannya agar KEK Maloy berfungsi sebagai titik bongkar muat atau *bulking station* yang sentral, tetapi juga sekaligus menjadi lokasi bagi berdirinya berbagai industri pengolahan lanjutan. Industri hilir ini dapat berupa pembuatan oleokimia, minyak goreng, biodiesel, dan produk turunan sawit lainnya yang memiliki nilai jual jauh lebih tinggi.

Dengan demikian, harapannya adalah KEK Maloy dapat bertransformasi dari sekadar kawasan logistik menjadi pusat industri hilir yang mampu mendorong nilai tambah secara maksimal bagi komoditas unggulan Kutim. Tanpa langkah strategis dan komitmen nyata, potensi besar KEK Maloy dikhawatirkan hanya akan menjadi wacana yang tidak pernah terwujud. (ADV)

Jangan Lewatkan