SANGATTA – Konektivitas menjadi kebutuhan penting bagi masyarakat di wilayah pedalaman Kutai Timur (Kutim), terutama Telen, Kombeng, Muara Wahau, dan sekitarnya. Keberadaan Bandara Uyang Lahai dinilai strategis untuk mempercepat mobilitas warga sekaligus mendukung distribusi logistik, pelayanan kesehatan, pendidikan, pemerintahan, hingga aktivitas ekonomi dan potensi pariwisata.
Kebutuhan tersebut mendorong Pemkab Kutim mencari langkah percepatan peningkatan fasilitas bandara. Salah satu solusi yang ditempuh adalah membangun kolaborasi dengan perusahaan yang beroperasi di tiga kecamatan tersebut melalui skema Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL).
Kesepakatan awal di Ruang Arau merupakan tindak lanjut arahan Bupati, Ardiansyah Sulaiman. Sekretaris Dishub Masrianto Suriansyah menegaskan kontribusi perusahaan tetap mengikuti aturan berlaku. Kepala Desa Miau Baru Luis Langet berharap manfaatnya segera dirasakan masyarakat di wilayah pedalaman Kutim.
Kolaborasi itu mendapat respons positif dari dunia usaha. PT Dharma Satya Nusantara (DSN) Group menyatakan kesiapan berkontribusi sesuai mekanisme perusahaan dan ketentuan yang berlaku. Perwakilan DSN Group, Yusron, menilai peningkatan bandara merupakan kepentingan bersama pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha.
“Bandara bukan hanya kebutuhan pemerintah, tetapi juga kebutuhan masyarakat dan dunia usaha. Pada prinsipnya DSN siap berkontribusi sesuai mekanisme TJSL perusahaan,” ujarnya.
Prioritas rehabilitasi diarahkan pada optimalisasi runway sepanjang 800 meter dengan lebar 30 meter. Pekerjaan tersebut diproyeksikan meningkatkan keselamatan sekaligus membuka peluang pelayanan penerbangan yang lebih optimal.
Kebutuhan anggaran sementara diperkirakan mencapai Rp44,8 miliar. Nilai tersebut masih akan diverifikasi tim teknis dan engineering perusahaan. Pembiayaan nantinya dibagi secara proporsional berdasarkan jumlah dan skala usaha masing-masing perusahaan dengan pendataan melibatkan Dishub, Bappeda, dan Dinas Perkebunan.
Setelah verifikasi selesai, pemerintah akan menyiapkan tahapan pelaksanaan. Jika seluruh proses berjalan sesuai rencana, pekerjaan fisik runway diperkirakan berlangsung sekitar tiga bulan.
Bagi masyarakat Miau Baru dan kawasan sekitar, peningkatan bandara diharapkan memperluas akses transportasi, pelayanan dasar serta peluang ekonomi. (ADV/ProkopimKutim/UB)
