BENGALON – Sebuah langkah inovatif di bidang pertanian dan ketahanan pangan resmi dimulai di Kutai Timur. Bupati Kutai Timur (Kutim), Ardiansyah Sulaiman, menanam padi terapung sekaligus melepas ikan bensaian di lahan warga RT 05, Desa Tepian Langsat, Kecamatan Bengalon. Teknologi ini menjadi yang pertama diterapkan di Kutim dan menjadi uji coba pertanian terpadu berbasis perairan.
“Ini untuk Kutim sepertinya yang pertama dan masih uji coba atau demplot. Metodenya menggunakan media styrofoam yang dialasi pot berisi tanah sebagai tempat tumbuh padi,” jelas Bupati Ardiansyah.
Sistem ini memungkinkan padi tumbuh di permukaan air, sementara di bawahnya hidup ikan bensaian yang memanfaatkan akar padi sebagai sumber pakan alami. Ardiansyah berharap metode ini berhasil dan dapat dikembangkan lebih luas.
Menurutnya, teknologi padi terapung bisa menjadi terobosan bagi daerah yang kekurangan lahan pertanian namun memiliki sumber air melimpah. Ia optimistis metode ini akan mendukung ketahanan pangan daerah dan membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat desa.
“Inovasi ini bisa menjadi solusi bagi desa-desa dengan lahan rawa atau genangan,” tegasnya.
Kepala Desa Tepian Langsat, Zeky Hamzah, menyampaikan apresiasinya atas perhatian Bupati. Ia berharap demplot ini mendapat dukungan berkelanjutan agar berkembang menjadi sumber ekonomi alternatif berbasis pertanian dan perikanan terpadu. “Semoga program ini dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat,” ujarnya.
Demplot padi terapung dan ikan bensaian ini diharapkan menjadi model pertanian adaptif terhadap perubahan iklim yang bisa direplikasi di wilayah lain di Kutim.
Dengan sinergi pemerintah daerah, pemerintah desa, dan masyarakat, inovasi ini berpotensi menjadikan Kutai Timur pelopor pertanian apung di Kaltim. “Dari Tepian Langsat, kita buktikan bahwa inovasi bisa tumbuh dari desa,” tutup Ardiansyah. (ADV/ProkopimKutim/UB)
