JAKARTA — “Tugas apa pun yang dipercayakan kepada saya harus dijalankan dengan serius dan fokus. Jangan pernah mengeluh terhadap tempat maupun pekerjaan. Kuasai tugasnya, pahami pekerjaannya, fokus dan kerjakan sebaik-baiknya sampai berhasil.”
Prinsip itu menjadi pegangan Inspektur Jenderal Polisi (Purn) Drs Frederik Kalalembang sepanjang perjalanan pengabdiannya. Dari seorang perwira muda di wilayah Kepulauan Sangihe, hingga mencapai pangkat bintang dua dan kemudian dipercaya masyarakat menjadi anggota DPR RI Fraksi Partai Demokrat.
Usai lulus dari Akademi Kepolisian 1988, Frederik mengawali karier di Kepolisian Resor Kepulauan Sangihe. Untuk mencapai tempat tugas, ia harus menempuh perjalanan sekira 12 jam menggunakan kapal kayu. Selama kurang lebih enam tahun, ia menjalani berbagai tugas, mulai dari kepala kepolisian sektor hingga kepala satuan lalu lintas.
Di Sangihe pula kehidupan keluarganya dimulai. Saat bertugas sebagai Kapolsek Siau Timur, Frederik bertemu Apriana Christien Tangyong, yang kemudian menjadi istrinya. Keduanya dikaruniai tiga anak. Setelah dari Sangihe Talaud, Frederik bertugas di Polres Gorontalo sebelum melanjutkan pendidikan di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK), Jakarta. Usai pendidikan, ia ditempatkan di Kepolisian Daerah Kalimantan Barat dan mendapat sejumlah kepercayaan, termasuk menjadi wakil kepala Polres Pontianak serta memimpin satuan Kepolisian Perairan.
“Semua tempat dan semua jabatan adalah baik. Jangan melihat penugasan dari enak atau tidak enaknya. Yang penting kita mampu menguasai pekerjaan, membangun komunikasi, bermasyarakat dan memberikan hasil,” kata lelaki kelahiran Makassar, pada 30 Oktober 1963 itu.
Menurut pria berdarah Toraja ini, kemampuan menempatkan diri sebagai staf juga menjadi bagian penting dalam perjalanan karier. Seorang staf, sambung Frederik, harus memahami kebutuhan pimpinan, menguasai pekerjaan dan mampu menawarkan solusi, bukan hanya membawa persoalan.
“Kalau menjadi staf, jadilah staf yang benar-benar membantu pimpinan. Jangan hanya membawa masalah, tetapi kalau bisa datang dengan informasi sekaligus alternatif penyelesaiannya,” ujarnya.
Karier Frederik kemudian berlanjut ke Sekolah Staf dan Pimpinan Polri dan Polda Metro Jaya. Salah satu pengalaman paling berat terjadi dalam musibah kapal Levina. Ia selamat dalam peristiwa tersebut, tetapi empat anggotanya meninggal dunia.
“Saya merasakan sendiri pertolongan Tuhan. Saya diberikan kesempatan untuk selamat, tetapi kehilangan empat anggota dalam tugas merupakan pengalaman yang tidak mungkin saya lupakan,” ungkapnya.
Setelah itu, Frederik dipercaya menjadi Kapolres Purwodadi, Wakapoltabes Medan, Direktur Polair Polda Kalimantan Timur, Direktur Polair Polda Sulawesi Selatan dan Jawa Timur, hingga bertugas di lingkungan Polair Baharkam Polri.
Kariernya terus meningkat sampai dipercaya menduduki jabatan di Badan Keamanan Laut RI dan kemudian menjadi Deputi Bidang Kebijakan dan Strategi dengan pangkat inspektur jenderal polisi. Pada 2021, Frederik mengakhiri masa dinas aktifnya di Kepolisian.
Purnabakti tidak membuatnya berhenti berkarya. Frederik kemudian dipercaya menjadi komisaris di sejumlah perusahaan yang bergerak di bidang perkapalan dan pertambangan sebelum mengambil langkah baru memasuki dunia politik.
Menjelang Pemilihan Umum 2024, ia maju sebagai calon anggota DPR RI dari Daerah Pemilihan Sulawesi Selatan III melalui Partai Demokrat. Sebagai pendatang baru, Frederik harus bersaing dengan sejumlah tokoh yang telah memiliki pengalaman dan jaringan politik.
“Saya selalu mengatakan bahwa setiap perjuangan harus menggunakan strategi. Seberapa keras persaingannya dan seberapa kuat kompetitornya, selama kita mengetahui kekuatan dan kelemahannya, sekaligus memahami kekuatan dan kelemahan kita sendiri, maka kita dapat menyusun strategi untuk mencapai tujuan,” tuturnya.
Strategi tersebut, menurut Frederik, harus dibangun dari informasi, komunikasi, pemetaan lapangan, jaringan dan kekuatan tim. Pengalaman panjang di Kepolisian dalam membaca situasi dan membangun relasi menjadi bekal ketika memasuki dunia politik.
Perjuangan itu akhirnya membuahkan hasil. Frederik terpilih sebagai Anggota DPR RI Fraksi Partai Demokrat setelah memperoleh kepercayaan masyarakat Sulawesi Selatan III.
“Saya tentu mempunyai kebanggaan tersendiri, tetapi yang terutama saya bersyukur. Semua ini tidak datang dengan sendirinya. Ada proses panjang, kerja keras, strategi, dukungan keluarga, dukungan tim, kepercayaan masyarakat serta usaha dan doa,” katanya.
Bagi Frederik, keberhasilan juga tidak dapat dilepaskan dari kemampuan membangun komunikasi dan menjaga kepercayaan. Ia menilai komunikasi harus dibangun ke berbagai arah, baik dengan pimpinan, bawahan, masyarakat maupun rekan kerja.
“Kita harus mampu berkomunikasi ke atas kepada pimpinan, ke bawah kepada anggota dan masyarakat, serta ke samping kepada rekan kerja. Kalau komunikasi terbangun dengan baik, hubungan juga akan berjalan dengan baik,” ujarnya.
Kini, setelah melewati perjalanan panjang dari wilayah kepulauan hingga Gedung DPR RI, Frederik tetap membawa prinsip yang sama: menguasai pekerjaan, fokus, menjaga komunikasi, memelihara kepercayaan, menggunakan strategi dan tidak meninggalkan doa.
“Kalau kita sudah diberikan kepercayaan, jangan mengeluh. Kuasai pekerjaannya. Kalau belum tahu, pelajari. Kalau ada kesulitan, cari jalan keluarnya. Setelah itu fokus,” tegasnya. (*/che)
