YOGYAKARTA – Sebanyak 297 guru asal Kabupaten Kutai Timur (Kutim), Kalimantan Timur, resmi menyandang gelar magister setelah menuntaskan studi S2 Pendidikan Inklusi di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Program tersebut dibiayai melalui Beasiswa Indonesia Emas Daerah (BIMED) Pemerintah Kabupaten Kutim.
Para guru itu mengikuti prosesi Wisuda UNY Periode I Tahun Akademik 2026/2027 di GOR UNY, Jalan Colombo Nomor 1, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sabtu (22/8/2026).
Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman hadir langsung dalam acara tersebut bersama istrinya, Siti Robiah. Kehadiran kepala daerah itu menjadi bentuk apresiasi pemerintah terhadap para pendidik yang telah meningkatkan kualifikasi akademiknya.
Ardiansyah mengatakan, pendidikan magister yang ditempuh para guru diharapkan tidak berhenti pada pencapaian gelar. Pengetahuan mengenai pendidikan inklusi, menurut dia, perlu diterapkan dalam proses pembelajaran di sekolah.
“Semoga ilmu yang diperoleh selama mengikuti pendidikan di UNY dapat memberikan manfaat dan semakin memperkuat kualitas pendidikan di Kutim,” kata Ardiansyah.
Ia juga menekankan pentingnya peningkatan layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus. Kompetensi guru yang semakin baik dinilai dapat membantu sekolah memahami karakter, potensi, dan kebutuhan setiap peserta didik.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kutim Mulyono menjelaskan, 297 wisudawan tersebut merupakan peserta angkatan kedua program kerja sama Pemkab Kutim dan UNY melalui skema Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL).
Program itu telah berjalan sejak 2024. Angkatan pertama diikuti 191 guru dan seluruhnya lulus pada 2025.
Pada angkatan kedua, sebanyak 300 tenaga pendidik mengikuti program. Namun, tiga peserta tidak mengikuti wisuda karena tidak menyelesaikan studi. Dua di antaranya terkendala kesehatan dan meninggal dunia, sementara satu peserta menghadapi persoalan lain. (ADV/ProkopimKutim/UB)
