Dominasi Sektor Konvensional Jadi Tantangan Berat Diversifikasi Ekonomi Kutai Timur

15 November 2025
465 dilihat
1 min read

SANGATTA – Upaya Pemerintah Kabupaten Kutai Timur dalam mendiversifikasi basis perekonomian daerah masih berhadapan dengan tantangan besar, yaitu dominasi sektor-sektor konvensional yang belum mampu menjadi mesin penggerak fiskal yang andal. Struktur perekonomian lokal hingga saat ini masih didominasi oleh aktivitas-aktivitas tradisional yang dinilai belum memberikan kontribusi signifikan dan stabil terhadap penerimaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

Anggota DPRD Kutai Timur, Yusri Yusuf, menyoroti akar persoalan ini dengan gamblang. Analisisnya menyentuh pada inti problem dari strategi pembangunan ekonomi daerah selama ini.

“Jadi diversifikasinya sangat konvensional lah belum ada industri yang betul-betul bisa bantu APBD kita,” ujarnya.

Pernyataan kritis tersebut mengindikasikan bahwa strategi diversifikasi yang dijalankan selama ini belum berhasil menyentuh dan mengembangkan sektor-sektor industri baru yang memiliki nilai tambah tinggi, daya saing kuat, dan kontribusi fiskal yang substansial. Ketergantungan yang berlebihan pada sektor konvensional, seperti pertanian tradisional dengan produktivitas terbatas atau perdagangan skala kecil dengan basis pajak yang sempit, membuat penerimaan daerah menjadi sangat rentan terhadap berbagai gejolak ekonomi.

BACA JUGA  Soal Pasien Cuci Darah Dipulangkan, Direktur RSUD Kudungga: Telah Memenuhi Kriteria Klinis

Akibat dari kondisi ini, ruang fiskal pemerintah daerah untuk membiayai program-program pembangunan infrastruktur strategis dan peningkatan kualitas pelayanan publik dasar menjadi sangat terbatas dan sulit diprediksi. Fokus pada penciptaan dan pengattrakan industri yang mampu secara nyata menggerakkan dan menstabilkan APBD menjadi sebuah keharusan yang tidak bisa ditunda lagi.

Industri yang dimaksud adalah yang memiliki rantai pasok panjang, menyerap tenaga kerja secara masif dan berkualitas, serta memberikan kontribusi pajak daerah dan retribusi yang substansial dan konsisten. Tanpa kehadiran industri-industri semacam ini, upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat secara menyeluruh bisa terhambat dan daya saing daerah di kancah regional maupun nasional akan sangat sulit untuk ditingkatkan.

BACA JUGA  Ekonomi Kerakyatan di Kutim Digeber, DPRD Dorong Perkebunan Berbasis Masyarakat

Untuk keluar dari jebakan ekonomi konvensional ini, diperlukan terobosan kebijakan yang visioner dan penciptaan iklim investasi yang lebih menarik dan kondusif. Pemerintah daerah perlu secara aktif dan agresif menjemput investor di sektor-sektor industri unggulan yang benar-benar sesuai dengan potensi dan keunikan lokal.

Selain itu, pembenahan regulasi, penyederhanaan birokrasi, dan kemudahan perizinan mutlak dilakukan untuk menciptakan ekosistem bisnis yang sehat, kompetitif, dan berkeadilan. Pergeseran paradigma dari ekonomi konvensional menuju ekonomi industri yang berdaya saing dan berbasis inovasi bukanlah hal yang mustahil, namun memerlukan komitmen kolektif, kepemimpinan yang kuat, dan perencanaan strategis yang matang dan konsisten. (ADV)

Jangan Lewatkan