SANGATTA – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) menggelar Job Fair selama dua hari, 8–9 Mei 2025, di Gedung Serba Guna, Pusat Perkantoran Pemkab Kutim, Bukit Pelangi, Sangatta Utara. Acara ini bertujuan membuka 10.000 lowongan kerja baru bagi masyarakat lokal, sekaligus menanggapi gelombang pemutusan hubungan kerja massal yang melanda Indonesia sepanjang tahun 2025.
Sebanyak 20 perusahaan dari sektor pertambangan, perkebunan, dan jasa berpartisipasi dalam bursa kerja tersebut. Kegiatan ini diinisiasi Dinas Transmigrasi dan Tenaga Kerja (Distransnaker) Kutim sebagai upaya konkret menekan angka pengangguran di tengah ketidakpastian ekonomi.
Asisten Administrasi Umum Setkab Kutim, Sudirman Latif, yang mewakili Bupati Ardiansyah Sulaiman dan Wakil Bupati Mahyunadi, menekankan pentingnya kolaborasi antara pencari kerja dan industri. “Bursa kerja ini mempertemukan pencari kerja dengan dunia industri secara langsung. Ada proses wawancara di tempat, peluang membangun jejaring, hingga akses informasi dunia kerja yang lebih aktual,” ujarnya saat pembukaan acara.
Kepala Distransnaker Kutim, Roma Malau, menyatakan target ambisius Pemkab Kutim menyerap 50 ribu tenaga kerja lokal dalam lima tahun ke depan. Program ini didukung Peraturan Daerah Nomor 1 Tahun 2022 dan Peraturan Bupati Nomor 6 Tahun 2024 yang mengutamakan penyerapan tenaga kerja lokal. “Tahun lalu 25 lulusan bursa kerja khusus dari sekolah-sekolah di Sangatta sudah diserap perusahaan setelah menjalani pelatihan di Balai Latihan Kerja dan training intensif bersama PT KPC dan lainnya,” tambah Roma.
Perusahaan besar seperti PT Indexim, PT GAM, dan PT KPC turut berpartisipasi dengan membuka lowongan formal sekaligus mendukung program pelatihan keterampilan. Salah satu inisiatif unggulan tahun ini adalah pelatihan menjahit bersama PT Indexim, yang bertujuan membangun ekosistem ekonomi kreatif berbasis produk lokal. “Bukan hanya operator alat berat, kita siapkan juga lini keterampilan lain. Jahit-menjahit salah satunya. Produk lokal kita punya kualitas yang bersaing dan harga kompetitif,” jelas Roma.
Data Badan Pusat Statistik mencatat, tingkat pengangguran terbuka nasional mencapai 6,3 persen pada triwulan pertama 2025. Di tengah tekanan ekonomi ini, langkah Kutim menjadi sorotan sebagai contoh pembangunan inklusif yang menggabungkan pelatihan, regulasi pro-lokal, dan sinergi multipihak.
“Penanganan ketenagakerjaan bukan tanggung jawab pemerintah saja. Semua harus terlibat. Dunia usaha punya peran strategis dalam menciptakan keseimbangan ekonomi dan sosial,” tegas Roma.
Job Fair Kutim tidak hanya menjadi respons atas krisis nasional, tetapi juga bagian dari strategi jangka panjang untuk memperkuat sumber daya manusia sebagai tulang punggung pembangunan daerah. Upaya ini diharapkan menjadi inspirasi bagi daerah lain dalam menghadapi tantangan ekonomi global. (*/)
