Remaja Kutim Dibekali Wawasan tentang Risiko Pernikahan Dini Melalui Seminar

13 November 2025
500 dilihat
1 min read

SANGATTA – Dalam rangkaian peringatan Hari Anak Nasional, sebuah forum edukasi digelar untuk membuka wawasan remaja Kutai Timur (Kutim) mengenai keputusan besar dalam hidup, yaitu memilih waktu yang tepat untuk menikah. Seminar bertema “Menikah di Waktu yang Indah” ini menghadirkan ratusan pelajar dari berbagai sekolah, menghadirkan suasana penuh dialog yang dekat dengan keseharian remaja.

Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi antara APSAI Kutim dan Yayasan Senyum dan Harapan (YSH), yang didukung oleh Pemerintah Kabupaten Kutim melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPPA). Seminar ini bertujuan untuk mengajak remaja memahami bahwa kesiapan mental, sosial, dan ekonomi peranan besar dalam membangun keluarga yang sehat.

BACA JUGA  Satu Dekade Menanam Investasi SDM, Kutim Panen Lulusan Ahli Pertanahan dari STPN

Kepala DPPPA Kutim Idham Chalid, yang hadir mewakili Bupati Ardiansyah Sulaiman, menyebut seminar ini sebagai bukti nyata kolaborasi lintas sektor dalam menciptakan lingkungan yang aman bagi tumbuh kembang anak. Ia menyoroti bahwa pernikahan dini masih banyak dipicu oleh tekanan ekonomi, budaya perjodohan, pendidikan rendah, serta minimnya pemahaman masyarakat.

Berbagai instansi dan perusahaan turut hadir, termasuk Ketua APSAI Kutim sekaligus Manager Community Empowerment KPC, Nanang Supriyadi. Dalam sambutannya, ia menegaskan komitmen dunia usaha untuk terus mendukung tumbuhnya generasi Kutim yang kuat dan siap bersaing.

“Ini baru langkah awal. Kami ingin semakin banyak kegiatan edukatif yang mampu membentuk generasi emas Kutim yang lebih siap menata masa depan,” ujarnya.

BACA JUGA  Pemkab Kutim Siap Fasilitasi Pertemuan antara Investor dengan Pemangku Kepentingan Lokal

Narasumber utama, Deri Rizky Anggarani, praktisi gizi keluarga dari Yogyakarta, memaparkan dampak kesehatan dan psikologis yang kerap menyertai pernikahan dini. Ia menekankan bahwa mitos “lebih cepat lebih baik” tidak sejalan dengan kenyataan risiko yang mengintai anak muda.

Melalui kerja sama pemerintah, dunia usaha, dan lembaga sosial, Kutim menunjukkan komitmen serius mencegah pernikahan dini sekaligus membekali remaja dengan pengetahuan yang cukup agar mereka membuat keputusan hidup secara matang dan terarah. (ADV/ProkopimKutim/UB)