Kutim Ikut Tekan Penyebaran TBC di Indonesia dengan ACF

2 November 2025
275 dilihat
1 min read

KOMBENG — Berdasarkan laporan Global TB Report 2023, Indonesia menempati peringkat kedua tertinggi kasus Tuberkulosis (TBC) di dunia, setelah India. Sekitar 969.000 kasus baru diestimasikan muncul setiap tahunnya, sedangkan angka kematian akibat TBC mencapai sekitar 144.000 jiwa per tahun.

Untuk itulah, Kementerian Kesehatan RI merancang strategi nasional guna mempercepat eliminasi TBC. Targetnya, pada 2030 nanti, angka kasus baru bisa menurun hingga 90 persen dibandingkan tahun dasar.

Di Kabupaten Kutai Timur (Kutim), strategi ini diterapkan oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) dalam bentuk Active Case Finding (ACF). Kegiatan yang digelar melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) ini, berfokus untuk melacak dan menekan penyebaran TBC melalui pemeriksaan paru secara gratis dengan X-Ray.

BACA JUGA  Gandeng Perusahaan, Camat Telen Tancap Gas Buka Akses Jalan Pedalaman Kutim

Mengikuti data dari Dinkes Kutim, salah satu titik yang dipilih untuk program ini adalah Kecamatan Kombeng, yang masuk ke dalam zona yang perlu perhatian serius terkait TBC. Faktor kepadatan hunian, mobilitas antarwilayah, dan keterbatasan akses layanan kesehatan menjadi tantangan tersendiri.

Dibalut tema “Kontak dengan penderita TBC, tinggal serumah, batuk tidak kunjung sembuh? Ayo periksa X-Ray paru!”, kegiatan ini digelar di Balai Pertemuan Umum Desa Makmur Jaya. Yang menjadi sasaran adalah warga yang punya riwayat kontak erat dengan pasien TBC atau mengalami gejala ringan namun berpotensi infeksi.

“Ini adalah upaya strategis untuk mendeteksi infeksi laten,” tutur Kepala Bidang Pengembangan Sumber Daya Kesehatan Dinkes Kutim Ahsan Zainuddin, saat membacakan sambutan Kepala Dinas. Ia menjelaskan, jika tidak ditangani, infeksi laten TBC bisa berubah menjadi TBC aktif yang mudah menular dan membahayakan.

BACA JUGA  Pemerintah Kutim Pandang Industri Kimia dan PSN sebagai Fondasi Ekonomi Masa Depan

“Penting untuk mendeteksi lebih awal agar pengobatan bisa dilakukan sedini mungkin. Dan tentu saja, kita ingin memutus mata rantai penularan sebelum penyakit ini berkembang,” tegas Ahsan. (ADV/ProkopimKutim/UB)