Ardiansyah Dorong Kemandirian Ekonomi Berjalan Seiring Aktivitas Pertambangan

2 November 2025
486 dilihat
1 min read

SANGATTA – Bupati Kutai Timur (Kutim), Ardiansyah Sulaiman, menegaskan pentingnya menyiapkan masa depan ekonomi masyarakat di daerah tambang sejak dini. Menurutnya, pelibatan warga, perlindungan lingkungan, dan penguatan ekonomi lokal harus berjalan bersamaan dengan aktivitas penambangan, bukan menunggu masa pascatambang.

Pesan tersebut ia sampaikan dalam Seminar Nasional Optimalisasi Keberlanjutan Tambang Menuju Kemandirian Ekonomi Masyarakat di Era Pascatambang, sekaligus penetapan Tim Penyusun Standar ESG Batu Bara Kutim, yang digelar di Ruang Meranti.

Acara tersebut dihadiri Dirjen Minerba Kementerian ESDM RI Tri Winarno secara daring, Ketua Perhapi Nasional Sudirman Widhy Hartono, perangkat daerah, pelaku usaha tambang, akademisi, dan mahasiswa. Forum ini menjadi ruang refleksi sekaligus langkah konkret menuju transformasi ekonomi hijau di Kutim.

BACA JUGA  Lewat Business Matching APKASI 2025, Kutim Buka Pintu Ekspor ke Pasar Eropa

Ardiansyah menekankan bahwa keberlanjutan tambang adalah bagian dari proses produksi. Ia mengingatkan, “Kita tidak ingin kasus seperti di beberapa wilayah pascatambang di Kaltim terjadi di Kutai Timur. Kemandirian ekonomi masyarakat harus dibangun sejak tambang masih berjalan, bukan setelahnya.”

Ia juga mencontohkan pemanfaatan void tambang PT Indominco di Teluk Pandan sebagai bahan baku air bersih. “Sektor tambang harus menjadi pengungkit ekonomi masyarakat, bukan hanya sektor ekstraktif,” ujarnya.

Ia berharap seminar ini menghasilkan rekomendasi dan aksi nyata penerapan ESG di sektor tambang, apalagi Indonesia menuju phase-out batubara pada 2040. Dari Jakarta, Dirjen Minerba Tri Winarno mengapresiasi inisiatif Kutim. “ESG bukan sekadar komitmen di atas kertas, tetapi harus tercermin dalam tindakan nyata,” tegasnya.

BACA JUGA  Fraksi GAP DPRD Kutim Desak Efisiensi Radikal dan Pemerataan Pembangunan di Tengah Penurunan Pendapatan Daerah

Ketua Perhapi Nasional Sudirman Widhy Hartono menambahkan pentingnya kolaborasi pelaku usaha, pemerintah, dan masyarakat. “ESG harus dilihat sebagai investasi sosial jangka panjang,” ujarnya.

Ia menutup bahwa keberlanjutan sosial-ekonomi di wilayah tambang hanya terwujud melalui perencanaan matang dan pengawasan berbasis komunitas. Dari Kutim, langkah menuju tambang beretika mulai disusun sejak sekarang. (ADV/ProkopimKutim/UB)