Sastra dan Wastra, Dua Jejak Warisan Kutim di Panggung Anugerah

16 November 2025
310 dilihat
1 min read

Sangatta – Proses seleksi calon penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia oleh Dinas Kebudayaan Kutai Timur (Kutim) terus diperluas agar dapat mewakili berbagai cabang seni dan kebudayaan yang berkembang di daerah. Kabid Kebudayaan Kutim, Fadliansyah Budi, menyampaikan bahwa kriteria yang digunakan tahun ini mencakup bidang yang lebih beragam, termasuk sastra dan wastra atau kerajinan tenun tradisional.

“Kalau nggak salah juga ada kriteria sastrawan, penulis, penulis tulis, penulis puisi juga masuk. Kalau tidak salah juga,” ujarnya di sela perayaan HUT Kutim.

Kategori sastra ini memberi ruang bagi para penulis yang selama ini berperan menjaga kekayaan bahasa, tradisi tutur, serta ekspresi literasi daerah. Selain itu, Fadliansyah menegaskan bahwa perajin wastra juga masuk dalam kategori penilaian. 

BACA JUGA  Regulasi KEK Maloy Direvisi, Kutim Targetkan Percepatan Investasi

“Kemudian wastra juga masuk juga, ada kriteria wastra,” tambahnya menegaskan pentingnya pelestarian budaya material seperti kain tenun khas.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa penilaian tidak berhenti pada kemampuan artistik saja, tetapi juga mencakup sejauh mana seorang pelaku budaya mampu menurunkan ilmunya kepada orang lain. 

“Selain dia berwastra, dia juga diteliti atau divisitasi, ternyata dia bisa memberikan pelatihan-pelatihan. Itu salah satu kriteria,” jelasnya.

Fadliansyah juga mengakui bahwa banyaknya kriteria membuat proses seleksi harus dilakukan dengan teliti dan cermat. Ia memastikan bahwa setiap kandidat akan ditinjau satu per satu sebelum batas akhir pengumuman. 

“Tapi itu nanti, selalu pasti kami akan push satu persatu nanti sebelum kita umumkan di bulan November,” pungkasnya.

BACA JUGA  Lokomotif Baru Ekonomi Kutim: Investasi Industri Skala Nasional

Langkah ini menunjukkan keseriusan Dinas Kebudayaan Kutim dalam memastikan proses seleksi yang inklusif dan representatif, sekaligus memberi kesempatan luas bagi para pelaku budaya yang konsisten melestarikan warisan budaya daerah. (ADV)