Dukung Ketahanan Pangan, Kutim Siapkan 400 Hektare untuk Program Penanaman Jagung Serentak 1 Juta Hektar

Dukung program Asta Cita, Kutim gelar penanaman jagung 1 juta hektare sebagai upaya menjaga ketahanan pangan nasional dan meningkatkan produktivitas pertanian di seluruh Indonesia.
23 Januari 2025
370 dilihat
2 mins read
Penanaman jagung serentak 1 juta hektare di Bengalon, Kutim, Senin, 21 Januari 2025. Foto: Dok. Protokoler Pemkab Kutim

BENGALON – Bercaping ala petani dengan masih menggunakan seragam dinas khaki dan bot berkelir jingga, Bupati Kutai Timur Ardiansyah Sulaiman memulai seremoni penanam bibit jagung serentak, pada Selasa, 21 Januari 2025. Di sebelahnya adalah Kepala Kepolisian Resor Kutai Timur, Ajun Komisaris Besar Polisi Chandra Hermawan. Serupa bupati, Chandra pun masih memakai pakaian dinas harian coklat, bercaping dan berbot senada dengan bupati.

Pada puncak acara, seremoni itu ditutup penanaman bibit jagung serentak menggunakan alat tanam jagung (corn seed planter) bermata 7 dari pabrikan Tanikaya. Ardiansyah dan Chandra didampingi Forum Komunikasi Pimpinan Daerah, bersamaan mendorong alat tanam menyusuri gundukan tanah yang telah siap sebagai media tanam di atas lahan PT  Kemilau Indah Nusantara (KIN) seluas 2 hektare.

General Manager PT KIN, Tri Hardo Saragih, yang ikut dalam seremoni mengatakan, pihaknya mendukung program satu juta hektare dari pemerintahan Prabowo – Gibran. Tak tanggung-tanggung, pihaknya menyiapkan lahan seluas 5 hektare, 75 kilogram bibit jagung, dan 200 kilogram pupuk.

Shobibul hajat hari itu adalah Polres Kutim bersama perwakilan dari Kementerian Pertanian dan Dinas Pertanian Kutim. AKBP Chandra mengatakan penanaman jagung ini adalah bagian dari target satu juta hektare di seluruh Indonesia, Di Kutim, target penanaman jagung tahap awal adalah 400 hektare, dengan 135 hektare di antaranya telah siap untuk ditanam.

“Untuk memastikan keberhasilan program ini. Kami akan terus memantau perkembangan tanaman, mulai dari penanaman hingga perawatan dan panen,” kata alumni Akademi Kepolisian 2004 itu. Di saat bersamaan, lanjut Chandra, di beberapa kecamatan seperti di Kongbeng dan Muara Wahau, Kepolisian Sektor Kongbeng dan Polsek Muara Wahau juga melakukan penanaman jagung serentak yang menggandeng perusahaan sawit setempat.

BACA JUGA  Awang Faroek Ishak Tutup Usia, Mengenang Sosok "Bapak Pembangunan Kutim dan Kaltim"

Lebih jauh, Chandra berharap proses penanaman ini tidak hanya seremonial yang hanya tanam dan tinggal. “Dengan keterlibatan seluruh Forkopimda dan stakeholder lainnya, program ini diharapkan berkelanjutan dari menanam, perawatan, hingga panen,” ucapnya.

Persiapan penanaman benih jagung diiikuti Bupati Ardiansyah Sulaiman, Kapolres Kutim AKBP Chandra, dan unsur Forkopimda di Bengalon, Senin, 21 Januari 2025. Foto: Dok. Protokoler Pemkab Kutim

Program “Penanaman Jagung Serentak 1 Juta Hektare” se-Indonesia digagas oleh Polri bersama Kementerian Pertanian (Kementan) RI dan Perum Perhutani mulai dilaksanakan di berbagai daerah di Indonesia, termasuk di Kabupaten Kutai Timur (Kutim), Kalimantan Timur.

Inisiatif ini bertujuan untuk memperkuat ketahanan pangan nasional dan meningkatkan produktivitas pertanian di seluruh Indonesia. Di level kabupaten, Polres Kutim sebagai penyelenggara, bekerja sama dengan Pemkab Kutim melalui Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Peternakan (DTPHP), Perhutani, dan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Kutim, memilih lokasi penanaman di lahan kosong milik PT KIN di Desa Sepaso Selatan, Bengalon.

Usai penanaman serentak, Ardiansyah menegaskan bahwa pemerintah kabupaten telah memproklamirkan program tersebut dengan konsep pertanian yang terintegrasi dan berkelanjutan.

“Kutim sudah menunjukkan potensi besar dalam sektor perkebunan, terutama sawit, yang menjadi salah satu yang terbesar di Indonesia. Kami terus mendorong pengembangan perkebunan berkelanjutan,” beber putra kelahiran Muara Pahu, Kutai Barat itu.

Ditambahkannya, salah satu aspek yang ia tekankan adalah komitmen Pemkab Kutim mencanangkan pengembangan lahan pertanian dalam lima tahun ke depan. Pemerintahannya menargetkan penanaman jagung seluas 100.000 hektare, yang terdiri dari 20.000 hektare untuk tanaman jagung, sedangkan 80.000 hektare akan digunakan untuk tanaman holtikultura, seperti sayuran.

BACA JUGA  Mogok Massal, Warga Kaltim Terjebak BBM Oplosan

Dikutip dari media nasional, komoditas jagung menyumbang inflasi 2 persen yang hampir sama dengan beras. Inflasi terjadi tidak hanya terkait keterjangkauan harga, tetapi juga berkaitan erat dengan ketersediaan pasokan dan distribusi. Komoditas jagung sangat berkorelasi dengan sektor peternakan.

Jika terjadi inflasi, imbas kenaikan harga akan berdampak pada produk peternakan. Sehingga, pemerintah harus menjaga harga jagung jangan sampai di bawah Rp 4.000 per kilogram yang berarti merugikan petani jagung, dan melonjak di atas Rp 5.000 per kilogram yang akan mencekik para peternak.

Selain soal harga, tantangan berikutnya adalah konsistensi para petani agar tetap bertahan menanam jagung di tengah lebih menguntungkannya alih fungsi lahan menjadi perkebunan sawit. Dari hitungan keekonomian, dalam jangka waktu 60-90 hari masa panen jagung, petani bisa mendapatkan penghasilan kotor sekira Rp 16 juta, dengan asumsi harga Rp 4.000 per kilogram dan sehektare menghasilkan 4 ton. Di atas kertas, selain menguntungkan, pertanian jagung juga membantu Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) menjaga inflasi di Kutim tetap terkendali.

Saat ini sentra produksi jagung berada di Lamongan, Jawa Timur. Dengan metode konvensional, para petani di Lamongan memproduksi rata-rata 5,6 ton per hektare. Namun dengan pengolahan nonkonvesional, petani jagung bisa meningkatkan produksi hingga 9 ton per hektare dengan penerapan pertanian jagung modern. (*/che)