Ketahanan Amplang: Kisah Kuliner Tradisional yang Bertahan di Tengah Turbulensi Ekonomi

17 November 2025
447 dilihat
1 min read

SANGATTA – Amplang, produk kuliner khas Kalimantan yang telah melegenda, terus menunjukkan daya tahan yang mengagumkan meski menghadapi berbagai tantangan ekonomi. Beberapa kelompok produsen amplang berhasil mempertahankan eksistensinya, sementara yang lainnya mengalami masa sulit hingga harus menghentikan aktivitas operasional.

Salah satu anggota DPRD Kutim, Yusri Yusuf, memaparkan kondisi terkini dengan gamblang. “Amplang itu sudah pernah ada dan masih ada dan ada beberapa kelompok yang sudah mati suri, karena amplang itu kan sempat berkembang sebelum covid, setelah covid mereka tidak berproduksi lagi karena mungkin kehabisan modal atau lemahnya ekonomi ya akhirnya mereka stagnan,” ujarnya.

Fenomena yang terjadi pada usaha amplang ini merefleksikan kerentanan usaha mikro terhadap guncangan ekonomi eksternal. Sebelum pandemi, usaha ini sempat menunjukkan perkembangan yang cukup menjanjikan dengan banyaknya kelompok produksi yang bermunculan. Namun, dampak pandemi yang berkepanjangan mengakibatkan banyak pelaku usaha kehilangan momentum dan mengalami kesulitan untuk bangkit kembali.

BACA JUGA  Efisiensi dan Ketepatan Sasaran Kunci Hadapi Penurunan Anggaran, Semangat Membangun Kutim Tak Boleh Pudar

Bagi kelompok yang berhasil bertahan, adaptasi dan inovasi menjadi kunci utama kelangsungan usaha. Beberapa di antaranya mulai memanfaatkan platform digital dan media sosial untuk memperluas jangkauan pemasaran. Strategi ini tidak hanya membantu mempertahankan usaha di masa sulit, tetapi juga membuka peluang baru untuk menjangkau konsumen di luar wilayah tradisional mereka.

Pemerintah daerah melalui dinas terkait terus berupaya memberikan pendampingan yang intensif kepada pelaku usaha amplang yang masih bertahan. Berbagai program pelatihan kewirausahaan, manajemen usaha, dan teknologi pengolahan makanan digulirkan untuk meningkatkan kapasitas para pelaku usaha.

Selain itu, bantuan permodalan dalam bentuk Kredit Usaha Rakyat dan program stimulan ekonomi juga terus diupayakan untuk membantu mereka bangkit dan mengembangkan usahanya. Namun, tantangan terbesar tetap pada bagaimana membangun ketahanan usaha yang berkelanjutan dan mampu bertahan dalam menghadapi berbagai gejolak ekonomi di masa depan.

BACA JUGA  Ekraf Kutim Dinilai 'Jalan di Tempat', DPRD Minta Terobosan Lebih Gaspol

Ke depan, diperlukan strategi yang lebih komprehensif dan terintegrasi untuk mengembalikan kejayaan amplang sebagai produk unggulan daerah. Kolaborasi yang sinergis antara pemerintah, pelaku usaha, akademisi, dan pihak terkait lainnya sangat penting untuk menciptakan ekosistem usaha yang mendukung.

Dengan demikian, amplang tidak hanya sekadar bertahan, tetapi dapat berkembang menjadi produk yang mampu bersaing di pasar yang lebih luas, baik nasional maupun internasional, sekaligus melestarikan warisan kuliner khas Kalimantan yang memiliki cita rasa unik dan nilai budaya yang tinggi. (ADV)

Jangan Lewatkan