Diresmikan di APT Pranoto, SPPG Jadi Langkah Nyata Dukung MBG dan Cegah Stunting

17 November 2025
438 dilihat
1 min read

SANGATTA – Di tengah meningkatnya kasus keracunan makanan di berbagai daerah, Pemerintah Kabupaten Kutai Timur mengambil langkah hati-hati namun progresif lewat program Makan Bergizi Gratis (MBG). Komitmen menghadirkan makanan sehat, higienis, dan bergizi seimbang bagi siswa sekolah dasar diwujudkan melalui peluncuran Satuan Pemenuhan Pangan Bergizi (SPPG) APT Pranoto, yang diresmikan oleh Wakil Bupati Kutim, Mahyunadi.

SPPG APT Pranoto menjadi pilot project MBG di Kecamatan Sangatta Utara, dengan 1.812 siswa dari empat sekolah penerima manfaat, termasuk TK Starkid dan SD Star Generation. Program ini tak hanya memastikan anak-anak mendapatkan makanan gratis, tetapi juga menjamin kualitas nutrisi untuk mendukung tumbuh kembang optimal.

BACA JUGA  Kutim Teguhkan Arah Lingkungan Berkelanjutan Melalui Finalisasi RPPLH

Peluncuran ini turut dihadiri Dandim 0909/Kutim, Letkol Arh Ragil Setyo Yulianto, bersama Forkopimda, menegaskan bahwa penyediaan makanan bergizi merupakan bagian dari strategi jangka panjang membangun generasi emas 2045.

Mahyunadi menegaskan bahwa Pemkab Kutim berkomitmen penuh terhadap kualitas dan keamanan pangan. Ia juga menambahkan bahwa program ini tidak hanya mengenyangkan, tetapi juga membangun masa depan melalui gizi seimbang yang lengkap dengan karbohidrat, protein, vitamin, dan mineral.

Pelaksanaan MBG menggandeng Yayasan Perisai Amanah Mandiri, mitra resmi Badan Gizi Nasional (BGN). Ketua yayasan, Niko, menjelaskan bahwa seluruh proses produksi mengikuti SOP keamanan pangan yang ketat. Pengiriman dilakukan dengan wadah tertutup, pengawasan rutin, dan evaluasi harian bersama Dinas Kesehatan serta orang tua siswa.

BACA JUGA  Pulau Miang: Surga Bahari Kutim yang Kian Bersinar dengan Ekowisata Alami

Kepala SPPG APT Pranoto, Dinand Perdana, menambahkan pentingnya disiplin konsumsi makanan di sekolah. “Makanan tidak boleh dibawa pulang karena ketahanan maksimal hanya enam jam setelah dimasak. Sebelum pukul 15.00 WITA harus sudah dikonsumsi,” jelasnya.

Kini, program MBG Kutim menjadi model inspiratif di Kalimantan Timur. Lebih dari sekadar memberi makan, inisiatif ini membangun sistem pangan yang aman, berkeadilan, dan berkelanjutan.(ADV/ProkopimKutim/UB)