SANGATTA SELATAN – Meskipun pemerintah daerah telah membangun fasilitas pasar modern di Pasar Sangatta Selatan, realitas di lapangan menunjukkan kondisi yang kontras. Inspeksi mendadak Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kutai Timur (Kutim) pada pertengahan Oktober 2025 menemukan banyak kios kosong, sementara pedagang tetap memilih berjualan di bahu jalan.
Pemerintah telah membangun sekitar 160 kios permanen yang tersebar di lantai satu dan dua pasar. Namun, data awal menunjukkan hanya sekitar 40 kios yang aktif digunakan. Kios yang tidak terpakai dibiarkan terbengkalai, meninggalkan kesan sepi dan tidak tertata. Camat Sangatta Selatan Abbas menekankan pentingnya pemanfaatan fasilitas yang telah disediakan. “Kios sudah ada, sayang jika dibiarkan kosong. Harus ada pemanfaatan optimal,” ujarnya.
Fenomena pedagang liar di sepanjang jalan bukan hanya soal ketertiban, tetapi juga masalah pola pikir masyarakat yang lebih memilih berbelanja cepat dari kendaraan. Abbas meminta Satpol PP melakukan penertiban secara rutin untuk menjaga ketertiban dan memperindah wajah kota.
Kepala Disperindag Kutim, Nora Ramadhani, menekankan perlunya strategi sistematis untuk mengatasi permasalahan ini. Salah satu langkah awal adalah pendataan ulang seluruh kios dan pedagang. “Kalau ada kios kosong, akan kita alokasikan ke pedagang yang ingin masuk. Kita juga sesuaikan jumlah pedagang di pinggir jalan dengan kapasitas kios yang tersedia,” jelas Nora.
Optimalisasi pasar juga didukung hadirnya Kantor Kas Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Kutim di lantai dua. Fasilitas perbankan ini diharapkan menarik lebih banyak aktivitas ke dalam pasar. Namun, penataan juga terkendala fasilitas pendukung, termasuk minimnya lahan parkir, yang kerap memicu kemacetan.
Pasar Sangsel seharusnya menjadi pusat aktivitas ekonomi yang tertata, aman, dan nyaman. Pemerintah kini dihadapkan pada tantangan mengembalikan fungsi pasar sebagai tempat transaksi rakyat yang efektif, bersih, dan berkelanjutan. (ADV/ProkopimKutim/UB)
