SANGATTA – Dengan pendekatan yang komunikatif, Yuliana Kalalembang mengajak anak-anak untuk memahami tubuh mereka sendiri, mengenali fungsi alat reproduksi, serta pentingnya menjaga batasan dalam pergaulan. Selain itu, ia juga menjelaskan bagaimana algoritma, konten viral, dan eksistensi digital bisa memengaruhi cara mereka memandang diri sendiri, pergaulan, hingga keputusan hidup.
Hal ini terjadi saat digelarnya pendidikan seks dan pengaruh media sosial, yang menjadi bagian dari pembinaan Anak Sekolah Minggu dan Remaja Gereja Toraja (SMGT). Kegiatan yang berlangsung di Gedung Gereja Jemaat Rama, Desa Singa Gembara, Kecamatan Sangatta Utara itu, mengangkat dua materi utama, yaitu “Sex Education” dan “Pengaruh Media Sosial terhadap Perilaku Gen-Z”.
“Pendidikan seksual tidak berarti mengajarkan anak untuk melakukan seks, tetapi membekali mereka dengan pengetahuan agar tidak menjadi korban atau pelaku dalam situasi yang salah,” jelas Yuliana, yang merupakan salah satu pengurus Persatuan Wanita Gereja Toraja (PWGT) Klasis Kutai Timur (Kutim).
Dalam pemaparannya, Yuliana menekankan pentingnya pengenalan konsep seksualitas sejak dini. Menurutnya, ini merupakan bagian dari tanggung jawab moral dan spiritual. Peran gereja, orang tua, dan komunitas sangat penting dalam mendampingi proses tumbuh kembang anak.
“Anak-anak zaman sekarang sangat cepat menangkap informasi, tapi belum tentu bisa memilah mana yang baik dan buruk,” imbuh pejabat lingkup Pemerintah Kabupaten Kutim ini.
Sebanyak 92 peserta dari kalangan anak-anak dan remaja hadir dalam kegiatan yang diselenggarakan oleh Pengurus SMGT Jemaat Rama itu. Sebagian besar dari mereka mengaku baru pertama kali mendapat materi pendidikan seks dan literasi digital secara terbuka dan ramah anak. Tak sedikit yang berharap kegiatan serupa dapat dilaksanakan secara rutin. (ADV/ProkopimKutim/UB)
