SANGATTA- Berbatasan langsung dengan Laut Sulawesi, Kecamatan Sandaran merupakan wilayah paling timur di Kabupaten Kutai Timur (Kutim). Akses darat sangat terbatas, sehingga mayoritas warganya hanya mengandalkan jalur laut atau jalan yang masih sulit dilalui kendaraan roda empat. Namun, tidak lama lagi, kondisi ini akan berubah.
Pasalnya, mulai tahun ini, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutim akan menjalankan proyek pembangunan jalan yang menghubungkan Desa Manubar, Sandaran, hingga Tanjung Mangkalihat. Jalan sepanjang 17,47 kilometer tersebut akan dibuka di atas Areal Penggunaan Lain (APL), sehingga tidak merusak kawasan hutan lindung yang menjadi penyangga ekologis Kalimantan Timur (Kaltim).
“Pembangunan jalan ini sangat strategis dalam membuka keterisolasian dua desa yang selama ini belum memiliki akses transportasi darat yang memadai,” ucap Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman, saat memimpin langsung Rapat Fasilitasi Pembangunan Infrastruktur Pesisir.
Sambutan antusias diberikan oleh warga Sandaran. Menurut Plt Camat Sandaran Mulyadi, proyek ini sudah lama dinanti oleh masyarakat. Bahkan, sejumlah desa sudah mulai mempersiapkan tenaga dan peralatan untuk mendukung percepatan pembangunan.
Mulyadi pun menyebutkan bahwa akses jalan akan membuka peluang bagi warga menjual hasil pertanian dan perikanan ke kota dengan biaya lebih murah dan waktu lebih cepat. Karena selama ini, hasil bumi dari Sandaran seperti kelapa, ikan, dan hasil hutan non-kayu hanya dinikmati terbatas di tingkat lokal karena sulitnya distribusi.
“Jalan ini bukan hanya bisa memudahkan mobilitas warga, tapi juga akan menghidupkan ekonomi lokal dan mempermudah pelayanan pemerintah di desa,” pungkas Mulyadi penuh keyakinan. (ADV/ProkopimKutim/UB)
