Bengalon – Duka mendalam menyelimuti salah satu SDN di Bengalon. pasalnya salah satu siswa meninggal dunia akibat serangan hewan liar saat sedang bermain di sekitar kanal desa. Kejadian tragis ini tidak hanya meninggalkan kesedihan, tetapi juga kekhawatiran mendalam atas kondisi lingkungan yang tak lagi aman bagi anak-anak.
“Kami kehilangan satu anak yang kami cintai. Tapi yang lebih kami takutkan, ini bisa terjadi lagi. Kami tidak ingin ada keluarga lain yang mengalami kepedihan seperti ini,” ujar Muriasnyah Kepala SDN di Bengalon dengan suara lirih.
Kejadian ini bermula saat korban bermain bersama teman-temannya di sekitar lingkungan tempat tinggal. Bola yang digunakan dalam permainan terjatuh ke pinggir kanal, dan saat hendak diambil, korban diserang oleh hewan buas yang diduga buaya. Meski upaya penyelamatan telah dilakukan warga, nyawa anak tersebut tak dapat diselamatkan.
Para saksi menjelaskan bahwa korban yang masih belia tersebut dilaporkan sedang bermain bola di halaman rumah warga. Saat bola terjatuh ke tepi kanal, korban mencoba mengambilnya meski sudah diperingatkan oleh temannya.
Nahas, sesaat ketika hendak mengambil bola, kaki korban diterkam buaya. Salah satu temannya, sempat berusaha menarik tangan korban, namun tak mampu menahan kuatnya tarikan predator air tersebut. Anak-anak pun berteriak minta tolong.
Pihak sekolah mengaku prihatin karena kejadian seperti ini bukan yang pertama kali terdengar di daerah pesisir dan pedalaman Kutai Timur. Minimnya ruang bermain yang aman, serta kian dekatnya wilayah satwa liar dengan permukiman manusia, menjadi persoalan yang mendesak.
“Kami sadar, ini bukan hanya persoalan sekolah. Ini soal lingkungan hidup, soal keamanan warga, soal perlindungan anak. Kami meminta kepada pemerintah daerah untuk segera turun tangan,” tegas pihak sekolah.
Sebagai Kepala Sekolah ia menyerukan pentingnya penanganan serius terhadap konflik satwa-manusia, dengan pendekatan konservasi sekaligus perlindungan warga. Pembuatan ruang bermain anak yang aman dan terjangkau, terutama di wilayah-wilayah yang berbatasan langsung dengan kanal dan hutan. Serta pemasangan rambu peringatan dan penyuluhan berkala kepada warga dan anak-anak mengenai wilayah berbahaya.
“Anak-anak kami hanya ingin bermain. Tapi ketika tempat bermain mereka berubah menjadi tempat yang mematikan, sungguh ini sangat memilukan,” ucapnya lirih.
Pihak sekolah juga menyampaikan terima kasih atas dukungan masyarakat, guru, orang tua, dan relawan yang turut membantu proses evakuasi dan pemakaman. Mereka berharap, tragedi ini menjadi peringatan bagi semua pihak untuk tak lagi menunda tindakan.
“Kami berduka. Tapi lebih dari itu, kami ingin perubahan. Demi anak-anak yang masih tumbuh di sini, demi kehidupan yang lebih aman dan manusiawi,” tutup pernyataan resmi dari pihak sekolah. (win)
