Jelang Ramadhan, Harga Cabai di Kutai Timur Meroket hingga Rp100 Ribu per Kilogram

25 Februari 2025
678 dilihat
1 min read
Foto: Pasar Induk Sangatta Utara. (ulin/kasno)

Kutai Timur – Umat Islam di seluruh dunia bersiap menyambut bulan suci Ramadhan 1446 Hijriah, yang diperkirakan akan dimulai pada 1 Maret 2025. Meskipun kepastian awal Ramadhan masih menunggu sidang isbat Kementerian Agama, Majelis Tarjih Muhammadiyah telah menetapkan 1 Ramadhan jatuh pada Sabtu Pahing, 1 Maret 2025, berdasarkan metode hisab yang dilakukan oleh Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah.

Namun, di tengah persiapan menyambut bulan puasa, lonjakan harga kebutuhan pokok mulai dirasakan masyarakat, terutama pada komoditas cabai. Di Pasar Induk Sangatta Utara, harga cabai yang sebelumnya berkisar Rp75.000–Rp80.000 per kilogram kini melonjak menjadi Rp100.000 per kilogram.

“Harga cabai naik drastis menjelang Ramadhan. Biasanya Rp75.000–Rp80.000 per kilo, sekarang sudah Rp100.000,” ujar Ibu Rahma, seorang pedagang cabai di Pasar Induk Sangatta, Senin (24/02/2025).

BACA JUGA  Kutim Tancap Gas! Ribuan PPPK Siap Dilantik Tanpa Drama

Sementara itu, salah satu petani cabai di Desa Singa Gembara, Kecamatan Sangatta Utara, Imam Mustajib, menyatakan bahwa tiga bulan lalu harga cabai di tingkat petani yang dijual ke tengkulak masih sangat murah per kilogramnya. “Tiga bulan lalu, dari petani ke tengkulak, harganya Rp25.000 per kilo,” bebernya.

Kondisi ini pun berdampak pada daya beli masyarakat. Seorang pengunjung pasar, Ibu Yuni, mengeluhkan kenaikan harga namun tetap berusaha beradaptasi. “Mau bagaimana lagi, ini kebutuhan juga. Mending masih ada daripada langka,” katanya.

Menanggapi hal ini, Jabfung Pengawas Perdagangan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kutai Timur, Achmad Doni Evriady, menyebut bahwa kenaikan harga menjelang hari besar keagamaan adalah fenomena tahunan.

BACA JUGA  Bupati Kutim Resmikan Rumah Pompa untuk Tingkatkan Sistem Irigasi di Desa Tanah Abang

“Kami sudah melakukan pemantauan di lapangan dan ini memang pola yang berulang. Setiap menjelang hari-hari besar keagamaan, harga kebutuhan pokok cenderung naik karena mayoritas pasokan berasal dari luar daerah,” jelasnya.

Disperindag Kutai Timur juga terus berkoordinasi dengan agen penyedia bahan pokok untuk memastikan ketersediaan stok aman hingga beberapa bulan ke depan. “Kami memastikan stok cukup hingga dua hingga tiga bulan ke depan, bahkan jika memungkinkan sampai enam bulan,” tambahnya.

Selain faktor pasokan, spekulasi pedagang juga turut memengaruhi kenaikan harga. “Kami akan terus melakukan pemantauan agar harga tetap dalam batas wajar,” pungkas Doni. (*/Kasno)