SANGATTA – Upaya menjaga kestabilan inflasi menjadi salah satu fokus utama Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim). Komitmen tersebut ditekankan oleh Wakil Bupati Kutim, Mahyunadi, saat mengikuti Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah yang diadakan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) secara Daring (online) bersama kepala daerah seluruh Indonesia.
Agenda tersebut menghadirkan paparan dari dari berbagai pihak yaitu Badan Pusat Statistik (BPS), Badan Pangan Nasional (Bapanas), Kementerian Pertanian, Kementerian Perdagangan, serta Bulog. Secara keseluruhan, pemaparan tersebut membahas mengenai perkembangan harga dari berbagai komoditas strategis.
Dalam rapat tersebut, pemerintah pusat membahas kondisi inflasi dengan melihat perubahan harga sejumlah kebutuhan pokok, seperti beras, telur, dan minyak goreng. Mahyunadi menyampaikan bahwa inflasi bulanan di Kutim tercatat sebesar 0,99 persen, lebih tinggi dibandingkan angka nasional yang berada pada 0,41 persen. Meski demikian, ia menilai kondisi perekonomian daerah masih stabil.
“Secara umum kondisi kita cenderung aman dan stabil, namun ada beberapa catatan,” Ujarnya
Salah satu perubahan harga yang digarisbawahi Pemkab Kutim adalah kenaikan harga telur yang dipengaruhi oleh tingginya biaya pakan. Untuk mengantisipasi dan menangani hal tersebut, Mahyunadi menghimbau perangkat daerah memperkuat pengecekan langsung ke pasar agar data harga pangan yang diterima pemerintah benar-benar akurat sesuai dengan kondisi masyarakat.
Selain pengendalian harga, Pemkab Kutim juga mendorong kemandirian pangan melalui pemanfaatan pekarangan rumah untuk menanam kebutuhan pangan harian seperti cabai dan sayuran. Pemerintah daerah juga diharapkan mengoptimalkan lahan yang tersedia untuk meningkatkan produksi pangan lokal, termasuk jagung sebagai bahan pakan.
Juga, Mahyunadi turut mengajak perangkat daerah mempertimbangkan penggunaan kendaraan listrik sebagai salah satu langkah efisiensi anggaran. Menurutnya, kendaraan listrik dapat menekan biaya operasional perjalanan dinas hingga lebih dari 50 persen dibandingkan kendaraan konvensional. (ADV/ProkopimKutim/UB)
