SANGATTA – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) terus memperkuat kapasitas kader yang terlibat dalam percepatan penurunan stunting melalui bimbingan teknis berkala. Langkah tersebut ditempuh agar pendampingan kepada keluarga berlangsung efektif dan materi edukasi yang diberikan tetap berkualitas di tengah tantangan-tantangan yang dihadapi di lapangan.
Salah satu tantangan terbesarnya justru berasal dari rendahnya partisipasi sebagian masyarakat. Pejabat Fungsional Teknik KKB DPPKB Kutim, Sulawati, mengungkapkan masih ada warga yang tidak mau menerima kunjungan kader dan menganggap posyandu tidak penting. Kondisi itu membuat Tim Pendamping Keluarga (TPK) harus menggunakan pendekatan persuasif serta berkolaborasi dengan tenaga kesehatan agar kepercayaan masyarakat terus meningkat.
Berbagai inovasi pun mulai digunakan. Posyandu diarahkan menjadi ruang yang lebih ramah bagi anak dengan cara menghadirkan area bermain sekaligus metode edukasi yang interaktif sehingga orang tua merasa lebih nyaman mengikuti layanan.
TPK yang terdiri atas bidan, kader PKK, dan kader KB memiliki tugas mendampingi empat kelompok sasaran, yakni calon pengantin, ibu hamil, ibu pasca-persalinan, serta balita hingga usia 59 bulan. Pendampingan dilakukan secara door to door demi memastikan intervensi pada 1.000 hari pertama kehidupan dapat berjalan optimal.
Kepala Bidang Ketahanan dan Kesejahteraan Keluarga DPPKB Kutim, Ani Saidah, menegaskan bahwa stunting bukan sekadar persoalan tinggi badan, melainkan kondisi gagal tumbuh yang dapat mengganggu perkembangan otak, menurunkan kecerdasan, dan berdampak terhadap kesehatan anak.
“Mereka bekerja dengan semangat kesukarelaan. Karena itu, dukungan kapasitas dan fasilitas menjadi prioritas kami agar edukasi yang sampai ke masyarakat tetap berkualitas,” ujarnya.
Kolaborasi antara pemerintah, kader TPK, tenaga kesehatan, dan keluarga dinilai menjadi kunci mempercepat penurunan stunting di Kutim sekaligus mendukung terwujudnya Generasi Emas 2045. Sulawati pun mengajak masyarakat menerima kehadiran kader karena edukasi yang diberikan merupakan investasi bagi masa depan anak. (ADV/ProkopimKutim/UB)
