Magic Land di Sangatta

Pesta Rakyat Magic Land menampilkan tarian budaya Kutai dan persiapan pembangunan Museum Karts Kutai Timur yang berisi artefak 4000 tahun lalu
20 November 2024
418 dilihat
1 min read
Tari kolosal diperagakan oleh pelajar dari Kutim dengan kostum adat suku-suku di Indonesia. Foto: Che Harseno/UlinBorneo.id

SANGATTA – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kutai Timur menggelar festival seni budaya dengan tajuk “Pesta Rakyat Seni Kebudayaan Kutai Timur”. Festival seni-budaya itu berlangsung tiga hari mulai 20 hingga 22 November 2024 di area Townhall Sangatta, dengan konsep Magic Land.

Kepala Disdikbud Mulyono mengatakan acara ini merupakan sarana edukasi dan hiburan yang bertujuan memperkuat identitas budaya masyarakat Kutai Timur. Ia juga menyebut bahwa festival seni rakyat ini adalah momentum strategis untuk menumbuhkan rasa bangga terhadap warisan budaya.

“Bukan hanya seni pertunjukan yang ditampilkan, tapi juga kami ingin pesta rakyat ini menjadi ruang aktif bagi warga untuk berinteraksi dan berpartisipasi sehingga tumbuh hubungan emosional terhadap budaya semakin kuat,” ujar mantan camat Rantau Pulung ini.

Alumni Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN) ini pun menyoroti pentingnya menjaga keberagaman yang tercermin dalam konsep Magic Land. Disebutkannya, keberagaman adalah kekuatan. “Dengan kebersamaan, kita dapat menjaga persatuan dan menciptakan Kutim yang lebih baik,” ujarnya.

BACA JUGA  Fenomena "Doom Spending" sedang Tren di Kalangan Milennial dan Gen Z, Apa itu?

Dari pengamatan UlinBorneo.id, setidaknya terdapat 60 tenant yang menggelar stand mulai dari kuliner, hasil kerajinan tangan, dan produk elektronik sepanjang akses menuju lapangan Townhall tempat panggung pesta rakyat berada. Di seberang panggung utama, terdapat pula stand Museum Karts Kutai Timur yang berisi artefak tembikar dari jaman 4.000 tahun lalu.

Dea Maharani, peserta magang dari Universitas Jambi di Pulau Sumatera itu mengatakan barang-barang purbakala ini berasal dari pegunungan karts Sangkulirang Mangkalihat. Sebagian besar barang ditemukan di dalam goa sepanjang karts tersebut dengan seluruh kondisi tidak utuh. Beberapa tembikar yang ditampilkan pun sudah pecah dan beberapa ditempel dengan perekat untuk menunjukan bentuk awal.

BACA JUGA  Daftar 5 Olahraga Turunkan Kolesterol

Dea yang sudah 4 pekan berada di Sangatta mengaku tertarik dengan kebudayaan Kutai. Terlebih dia bisa membandingkan penemuan purba dengan kebudayaan yang ada di wilayah Jambi hingga ke Palembang dimana banyak peninggalan masa kejayaan Sriwijaya dengan candi-candi bermateri tanah merah. “Sayang, kami berempat tidak sampai ke Gunung Gergaji tempat ditemukan lukisan tangan dan artefak purba,” ujar mahasiswi angkatan 2021 ini.

Ia sebenarnya berharap bisa mengeksplor wilayah karts atau pun mengikuti kegiatan arkeolog di Kutai Timur. Dengan rencana pembangunan Museum Karts Kutai Timur, Dea berharap kegiatan arkeologi bisa makin diperbanyak untuk merangkai puzzle sejarah bangsa di Kutai. (*/che)