SANGATTA – Pemadaman listrik yang berlangsung sejak siang hari di Sangatta, Kutai Timur, Senin (14/9/2026), ikut membuat sejumlah fasilitas lalu lintas tidak berfungsi. Lampu merah di perempatan Karya Etam dan perempatan APT Pranoto terpantau mati saat arus kendaraan mulai ramai.
Pemadaman terjadi sejak sekitar pukul 13.00 WITA dan masih berlangsung hingga lewat pukul 17.00 WITA. Kondisi ini bertepatan dengan meningkatnya aktivitas warga, terutama saat jam pulang sekolah dan pulang kantor.
Di dua persimpangan tersebut, kendaraan dari berbagai arah harus melintas tanpa bantuan lampu pengatur lalu lintas. Pengendara terpaksa mengandalkan kewaspadaan masing-masing untuk menentukan kapan harus berhenti maupun mengambil giliran melintas.
Pantauan di lapangan, sejumlah kendaraan tampak memperlambat laju saat mendekati persimpangan. Pengendara juga terlihat saling menunggu ketika kendaraan dari beberapa arah datang hampir bersamaan.
Situasi ini membuat perjalanan melintasi persimpangan membutuhkan perhatian lebih. Sebab, tanpa lampu lalu lintas, pengendara harus memastikan kondisi dari sisi kanan, kiri, maupun arah berlawanan sebelum melanjutkan perjalanan.
Rico, 30 tahun, warga yang berada di sekitar lokasi, mengatakan lampu lalu lintas yang mati membuat pengendara harus lebih berhati-hati, terutama ketika arus kendaraan sedang ramai.
“Kalau lampu merah mati, kita harus lebih hati-hati membawa kendaraan. Apalagi kalau kendaraan dari beberapa arah datang bersamaan. Kita tidak tahu siapa yang akan jalan lebih dulu,” kata Rico.
Pengguna jalan lainnya, Yani, 27 tahun, mengaku memilih mengurangi kecepatan ketika melewati persimpangan yang lampu lalu lintasnya tidak berfungsi.
“Biasanya kalau lampu menyala kita tinggal mengikuti. Kalau mati seperti ini harus benar-benar lihat kendaraan lain sebelum lewat. Saya lebih baik pelan daripada terburu-buru,” ujarnya.
Yani berharap gangguan listrik dapat segera ditangani sehingga aktivitas masyarakat kembali berjalan normal. Menurutnya, waktu pemadaman juga perlu menjadi perhatian apabila pekerjaan atau gangguan teknis mengharuskan pasokan listrik dihentikan.
“Semoga gangguannya cepat diperbaiki. Kalau memang harus ada pemadaman, mungkin bisa dilakukan saat aktivitas warga tidak terlalu ramai, supaya tidak terlalu mengganggu, terutama di jalan,” katanya.
Mati lampu lalu lintas bukan sekadar persoalan fasilitas yang tidak menyala. Ketika terjadi di tengah peningkatan volume kendaraan, kondisi tersebut membuat pola pengaturan arus di persimpangan berubah dan menuntut pengendara mengambil keputusan sendiri.
Risiko semakin besar ketika kendaraan datang dari berbagai arah dalam waktu bersamaan. Pengendara yang melaju tanpa memperhatikan kondisi sekitar dapat memicu konflik arus kendaraan.
Pemadaman listrik yang berlangsung berjam-jam itu pun memperlihatkan dampak gangguan listrik yang meluas. Tidak hanya rumah, tempat usaha, dan aktivitas masyarakat yang terdampak, fasilitas publik seperti lampu lalu lintas juga ikut bergantung pada kestabilan pasokan listrik.
Hingga listrik kembali menyala dan lampu lalu lintas berfungsi normal, kewaspadaan pengendara menjadi kunci. Memperlambat kendaraan dan memastikan kondisi persimpangan sebelum melintas menjadi langkah penting untuk menjaga keselamatan di tengah padatnya aktivitas jalanan Sangatta.
