Setinggi Apa Pun Jabatanmu, Jangan Lupakan Jalan yang Pernah Dilalui

Setinggi apa pun jabatan yang kita raih, jangan pernah lupa dari mana kita berangkat.
20 Oktober 2026
170 dilihat
2 mins read
Frederik Kalalembang. Foto: Dok Pribadi

Oleh Irjen Pol (Purn) Drs Frederik Kalalembang

JABATAN membawa tanggung jawab. Di balik penghormatan yang datang bersama sebuah kedudukan, ada perjalanan panjang yang tidak mungkin ditempuh seorang diri. Ada senior yang membimbing, sahabat yang membantu ketika kita berada dalam kesulitan, serta keluarga yang tetap percaya ketika keyakinan kita sendiri mulai goyah. Ada pula orang-orang yang mungkin tidak pernah kita sadari perannya. Mereka membuka jalan, memberikan nasihat, menyebut nama kita dalam doa, atau sekadar hadir pada saat kita membutuhkan seseorang untuk berdiri di samping kita.

Karena itu, jangan sampai ketika sudah berada di atas, kita justru sulit dijangkau oleh orang-orang yang dahulu membantu kita melangkah.

Saya bersyukur kepada Tuhan karena masih diberi kehidupan, kesehatan, dan kesempatan hingga hari ini. Kepercayaan untuk duduk sebagai anggota DPR RI adalah amanah yang saya syukuri sekaligus tanggung jawab yang harus saya jalankan dengan sungguh-sungguh.Ketika melihat kembali perjalanan tersebut, saya teringat banyak orang sederhana yang pernah saya temui. Mungkin pernah ada seseorang yang  hidup dalam keterbatasan dan pada suatu ketika Tuhan memberi saya kesempatan untuk membantunya.

Saya tidak pernah tahu seberapa besar arti bantuan itu bagi dirinya. Bisa jadi, dari sebuah perjumpaan sederhana tumbuh persaudaraan, doa, dan kepercayaan yang kemudian ikut mengiringi perjalanan saya. Itulah sebabnya saya belajar untuk tidak meremehkan siapa pun. Setiap orang memiliki martabat. Setiap orang memiliki harapan. Dan setiap orang mungkin memiliki peran yang tidak kita ketahui dalam perjalanan hidup kita. Begitu pula dengan amanah sebagai anggota DPR RI.

“Jabatan ada waktunya. Kekuasaan ada masanya.”

Saya sadar, kursi yang saya duduki hari ini tidak diberikan oleh satu orang. Ada ratusan, ribuan, bahkan puluhan ribu orang yang memberikan kepercayaan. Ada yang meluangkan waktu, mengeluarkan tenaga, mengajak keluarga dan sahabat, serta berjuang dengan caranya masing-masing. Di balik kursi itu ada harapan banyak orang.

BACA JUGA  Perjalanan Sangtorayan, dari Sangihe hingga Senayan

Karena itu, mereka yang pernah memberikan kepercayaan layak mendapatkan waktu dan perhatian. Saya ingin terus menjaga komunikasi, mendengarkan cerita mereka, dan mengetahui persoalan yang sedang mereka hadapi. Tidak semua orang yang menghubungi kita sedang meminta sesuatu. Ada yang sekadar ingin bertanya kabar. Ada yang ingin menyampaikan pendapat. Ada pula yang mungkin hanya ingin merasa dekat dengan seseorang yang dahulu mereka dukung. Bagi sebagian orang, sebuah sapaan sederhana sudah cukup berarti.

Ketika kita masih mengingat nama mereka, menyapa, atau meluangkan waktu untuk berbicara, sesungguhnya kita sedang mengatakan bahwa mereka belum dilupakan. Mereka tetap dihargai dan tetap menjadi bagian dari perjalanan kita. Jangan sampai orang-orang yang dahulu mengantarkan kita dengan penuh harapan justru merasa asing setelah kita tiba di tujuan.

Saya tentu memiliki keterbatasan. Tidak semua persoalan dapat saya selesaikan. Tidak semua harapan dapat segera saya penuhi. Namun, saya ingin tetap berusaha mendengarkan, memberikan penjelasan dengan baik, dan melakukan sesuatu yang bermanfaat sesuai kemampuan, kewenangan, dan kapasitas yang Tuhan percayakan kepada saya.

Bagi saya, menjaga komunikasi adalah salah satu cara menghormati kepercayaan. Jika belum dapat membantu, setidaknya kita hadir untuk mendengar. Jika belum memiliki jawaban, sampaikan dengan jujur. Jangan membiarkan seseorang menunggu tanpa kabar hingga akhirnya merasa dilupakan. Saya juga berharap tetap menjadi pribadi yang dahulu dikenal oleh teman-teman dan sahabat. Tetap dapat diajak berbicara, bersedia mendengarkan, dan mau menerima nasihat.

“Sebab pada akhirnya, perjalanan menuju sebuah jabatan bukan hanya tentang seberapa tinggi kita sampai. Yang lebih penting adalah apakah ketika sampai di sana, kita masih mengingat orang-orang yang pernah berjalan bersama kita.”

Jika suatu ketika kesibukan atau sikap saya membuat hubungan terasa menjauh, semoga saya memiliki kerendahan hati untuk memperbaikinya.Karena itu, saya meminta teman-teman dan sahabat untuk mengingatkan apabila ada langkah saya yang keliru atau perhatian yang terlewatkan. Persaudaraan tidak hanya dibangun dengan pujian, tetapi juga dengan keberanian untuk saling mengingatkan.

BACA JUGA  Polres Kutim Gelar Apel Siaga dan Bakti Religi Sambut Imlek 2026

Jabatan ada waktunya. Kekuasaan ada masanya.

Yang akan tinggal lebih lama adalah bagaimana kita memperlakukan orang lain. Kelak, ketika amanah ini selesai, saya berharap masih dapat duduk bersama teman-teman dan sahabat dengan keakraban yang sama. Tidak ada jarak yang tercipta hanya karena seseorang pernah berada di sebuah jabatan. Saya ingin terus berusaha berbuat sesuatu bagi sahabat, teman, dan masyarakat sesuai kemampuan serta kapasitas yang Tuhan percayakan kepada saya.

Mohon doa dari seluruh Sahabat JFK. Semoga Tuhan memberikan kesehatan, kekuatan, kebijaksanaan, dan kemampuan kepada saya untuk menjalankan amanah ini sekaligus tetap hadir bersama sahabat semua.

Semoga saya tidak pernah melupakan jalan yang pernah saya lalui dan tangan-tangan yang pernah menolong saya.

Sebab pada akhirnya, perjalanan menuju sebuah jabatan bukan hanya tentang seberapa tinggi kita sampai. Yang lebih penting adalah apakah ketika sampai di sana, kita masih mengingat orang-orang yang pernah berjalan bersama kita.

*Anggota Komisi III DPR RI dari Partai Demokrat

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published.