Dari Gabah hingga Pasar, Kutim Bangun Ekosistem Pangan

7 Agustus 2026
485 dilihat
1 min read
Kepala Bidang Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP), Dinas TPHP Kutim, Bohari. Foto: Alvian Pro Kutim

TELUK PANDAN – Bagi petani padi di Kutai Timur (Kutim), pekerjaan belum sepenuhnya berakhir ketika panen selesai. Gabah yang telah dikumpulkan masih membutuhkan pembeli dengan harga yang layak. Persoalan penyerapan ini turut menentukan apakah petani akan kembali menanam padi atau memilih komoditas lain dengan pasar yang lebih pasti.

Kondisi tersebut membuat perkebunan kelapa sawit menjadi pilihan menarik. Jaringan penjualan yang lebih terbentuk membuat tandan buah segar (TBS) relatif mudah dipasarkan. Namun, Kepala Bidang Prasarana dan Sarana Pertanian DTPHP Kutim, Bohari, menilai padi tetap memiliki potensi. Produktivitas sawah rata-rata mencapai lebih dari 3,5 ton gabah per hektare per musim, bahkan di Kaubun pernah mendekati 6 ton. Jika ditanam dua kali setahun, produksi bisa mencapai sekitar 7 ton per hektare per tahun.

BACA JUGA  Wakili Kutim, Empat Pelajar Bersaing Jadi Pelopor Keselamatan LLAJ Kaltim

Karenanya, pemerintah daerah mendorong penguatan sisi hilir. Rencana pembangunan gudang atau fasilitas Bulog di Kutim terus disiapkan setelah proses hibah lahan mendapat dukungan. Fasilitas tersebut diharapkan menjadi tempat penyimpanan sekaligus penyangga harga, sehingga petani memiliki kepastian setelah panen. 

Sementara pasar diperkuat, sisi produksi juga diperbesar melalui program cetak sawah rakyat. Target awalnya 1.106 hektare, dengan sekitar 400 hektare telah tercetak hingga tahun lalu. Pekerjaan hampir 600 hektare kembali dilanjutkan tahun ini dengan kontrak sekitar tiga bulan.

Lahan program tersebar di Bengalon, Busang, Sandaran, Susuk, Kaubun, hingga Kombeng. Setiap lokasi menjalani survei investigasi dan desain, meski sebagian target terkendala perizinan dan topografi. Program didukung APBN serta pendampingan lintas sektor, termasuk TNI.

BACA JUGA  Perkuat Integritas Pengelolaan Keuangan, Kutim Dukung SMAP BPK RI

DTPHP juga mengusulkan hampir 700 hektare tambahan untuk tahun mendatang. Langkah tersebut diarahkan bukan sekadar memperluas hamparan sawah, melainkan membangun rantai pangan yang membuat petani bertahan, produksi terserap, dan ketahanan beras Kutim semakin kuat menuju swasembada. (ADV/ProkopimKutim/UB)