Menjangkau Anak Berisiko, Menguatkan Keluarga

19 Agustus 2026
389 dilihat
1 min read

SANGATTASebanyak 542 keluarga di Kecamatan Sangatta Utara masuk dalam kategori berisiko stunting. Angka tersebut menunjukkan bahwa upaya memperbaiki pertumbuhan anak masih membutuhkan jangkauan intervensi yang lebih luas dan berkelanjutan.

Stunting tidak semata-mata berkaitan dengan makanan yang dikonsumsi anak. Kondisi gizi, pertumbuhan, perkembangan, pola asuh hingga kondisi psikologis perlu diperhatikan secara bersamaan. Karena itu, penanganannya membutuhkan keterlibatan keluarga sekaligus tenaga profesional.

Kebutuhan tersebut coba dijawab Kecamatan Sangatta Utara melalui Rumah Rehab Gizi Stunting. Fasilitas ini menjadi ruang intervensi bagi anak sekaligus tempat orang tua memperoleh pemahaman agar pola pengasuhan dan pemenuhan gizi dapat diteruskan setelah program berakhir.

Dalam pelaksanaannya, program menggunakan sistem siklus. Kapasitas yang semula diuji untuk delapan anak berkembang menjadi 18 dan kini mencapai 20 anak dalam satu siklus. Dengan lima siklus, program diproyeksikan menjangkau sekitar 100 anak per tahun.

BACA JUGA  Akses Air Bersih di Suka Rahmat Mulai Teratasi, 90 KK Rasakan Manfaat TMAB

Pendekatan yang diterapkan juga bersifat aktif. Anak yang membutuhkan penanganan tidak harus selalu datang bersama orang tua. Jika keluarga tidak dapat mengantarkan, tim kecamatan akan melakukan penjemputan.

Kepala Dinas Kesehatan Kutai Timur 9Kutim), dr. Yuwana Sri Kurniawati, mengatakan program tersebut mendukung target nasional penurunan prevalensi stunting menjadi 14,2 persen pada 2029. Pada 2024, prevalensi nasional tercatat 19,8 persen.

Intervensi di rumah rehab melibatkan dokter spesialis tumbuh kembang anak, dokter spesialis gizi klinik dan psikolog. Keterlibatan lintas keahlian itu membuat penanganan tidak berhenti pada pengukuran berat dan tinggi badan.

Namun, perluasan program masih menghadapi persoalan kapasitas dan pembiayaan. Kebutuhannya diperkirakan Rp1,8 miliar, sedangkan dukungan APBD sekitar Rp800 juta. KPC turut memberikan sekitar Rp150 juta, sementara operasional didukung anggaran kecamatan.

BACA JUGA  Jejak Pencegahan Stunting Kutim: Dari Remaja hingga Generasi Mendatang

Wakil Bupati Kutim Mahyunadi menyebut rumah rehab tersebut sebagai proyek percontohan. Jika efektif, pemerintah akan mengembangkannya ke kecamatan lain. (ADV/ProkopimKutim/UB)